Kegelapan di lorong itu tidaklah kosong. Ia terasa padat, berbau debu mesiu, dan dipenuhi oleh deru napas yang memburu.Di tengah kesunyian yang mencekam, suara detak pemicu granat di tangan Mery terdengar seperti lonceng kematian yang berirama.Aku tidak bisa melihat wajah Mery, namun aku bisa merasakan kehadirannya. Aroma Black Opium miliknya kini bercampur dengan bau tajam keringat dingin dan adrenalin yang memabukkan. Tiba-tiba, sebuah tangan yang lembut namun bertenaga menarik kerah kemejaku yang robek. Tubuh Mery yang hangat dan gemetar merapat ke punggungku, melingkari pinggangku dari belakang."Jangan bergerak, Kendi," bisiknya, suaranya kini tidak lagi penuh perintah, melainkan serak oleh keputusasaan yang sensual.Aku bisa merasakan dadanya yang naik turun dengan kencang menekan punggungku, detak jantungnya seolah memukul kulitku. Jemarinya yang halus merayap ke depan, mengusap perutku yang tegang, lalu naik ke arah dadaku. Bibirnya menempel di pundakku yang telanjang, me
Terakhir Diperbarui : 2026-04-30 Baca selengkapnya