Aku melompat turun dari ranjang, menyambar celana jeans dan berlari keluar kamar tanpa alas kaki.Di lorong yang diterangi lampu temaram, Kenzo berdiri tepat di depan pintu kamar Dira.Ia tidak menyerang, ia hanya berdiri diam, menatap pintu kayu itu dengan pandangan yang kembali jernih, namun terselubung kabut kebingungan."Kenzo, berhenti!" teriakku, napasku memburu, otot-ototku menegang siap menerjang.Kenzo berbalik. Ia membuka kancing kemejanya dengan kasar, menyibakkan kain itu hingga punggungnya yang bidang tersingkap di bawah cahaya lampu koridor. Tidak ada jahitan bedah, tidak ada ganjalan perangkat elektronik di bawah kulit tulang belikatnya.Hanya ada otot yang meliuk tegas dan bekas luka-luka lama dari latihan keras kami dulu. Ia meraba punggungnya sendiri, lalu menatapku dengan sorot mata yang menantang sekaligus lelah."Bramantyo hanya bermain dengan ketakutan kita, Kendi," ucapnya serak, suaranya bergetar menahan amarah yang teredam. "Dia ingin kita saling curiga, in
Terakhir Diperbarui : 2026-06-07 Baca selengkapnya