Desis gas beracun berwarna hijau pucat merayap turun dari ventilasi, menyentuh lantai beton dan langsung bereaksi dengan cairan kimia di sana, menciptakan buih-buih sulfur yang menyengat lubang hidung.Pandanganku mulai mengabur, oksigen di ruangan itu digantikan oleh kabut mematikan yang terasa seperti asam di dalam paru-paru."Kendi, lewat sini !" suara itu berat, familiar, dan sarat akan kesadaran yang utuh.Kenzo. Saudaraku itu sudah berdiri, menendang panel dinding baja di sudut koridor hingga engselnya berderit protes. Sebuah lorong rahasia gelap—labirin tua yang tak terdeteksi radar—menganga di baliknya. Tanpa membuang detik, kami merangsek masuk. Dira yang sejak tadi menahan sesak, langsung menghambur ke pelukan Kenzo.Di sela desis gas yang kian memekat, Dira mencium Kenzo dengan keintiman yang menyakitkan. Aku bisa merasakan detak jantung mereka yang beradu melalui kain seragam taktis yang basah oleh keringat.Rasa rindu, ketakutan, dan relief yang murni tumpah dalam ciuma
Terakhir Diperbarui : 2026-06-06 Baca selengkapnya