Maura mendengus pelan, tapi senyum tipis di bibirnya tak bisa lagi disembunyikan. Dia kembali merebahkan kepalanya di dada tegap Bumi, menghirup aroma yang menenangkan dari tubuh suaminya. "Penyalahguna kekuasaan."Bumi hanya menaikkan satu alisnya lempeng, lalu melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Sudah hampir masuk jam kuliahnya. Enggan, dia melonggarkan pelukan, lalu mengusap rambut Maura yang agak berantakan."Aku kunci dari luar," kata Bumi tegas sambil bangkit dari sofa. Pria itu merapikan kemejanya yang sempat kusut akibat remasan jemari Maura, lalu berjalan menuju pintu ruangannya.Sebelum melangkah keluar, Bumi memutar kunci dari dalam, lalu mencabut kuncinya dan memasukannya ke saku celana. Dia menoleh sekali lagi menatap Maura yang duduk sendirian memeluk bantal kecil."Jangan berisik, jangan buka pintu buat siapa pun," pesan Bumi kelewat protektif. "Kalau ada yang ketok, pura-pura pingsan aja."Bibir Maura langsung tertarik lebar, menjadi salam perpisahan karena Bu
閱讀更多