"Kenapa bangun?" gumam Maura, menelan sisa nasi di mulutnya.Dia mendekat ke sisi ranjang, mendaratkan bokongnya di samping suaminya. Jemarinya otomatis saja mendara di rambut pria itu, mengusapnya ke belakang.Bumi mendongak, menatapnya sayu."Makan dulu ya, habis itu minum obat." kata perempuan itu, mendekatkan wajahnya.Bumi menyambutnya dengan usapan lembut di pipinya. Bahu kokoh itu tampak bergerak, menonjol, seiring tangannya yang bergerak."Udah sarapan?" tanya suaminya.Maura mengangguk kecil."Ambilin makanku," lanjut Bumi.Maura menghela napas halus, tetapi sudut bibirnya tak bisa menahan senyum geli. Dia bangkit lagi, mengambil bubur ayam dan satu botol air mineral.Ketika dalam mode sakit begini, aura putra mahkota Arkatama yang kaku, dingin, dan berjarak seolah menguap tanpa sisa. Perbedaan usia sepuluh tahun di antara mereka mendadak tak berjejak.Bumi kini tak ubahnya bagai seorang bocah yang merengek menuntut perhatian penuh. Sementara Maura, dengan kehangatan naluri k
Leer más