Ya, selimut orang kaya."Sudah, tidur sana. Nanti game-nya diterusin besok lagi. Kasihan mata kamu, udah merah itu," ucap Bumi datar, namun sarat akan perhatian seorang kakak."I-iya, Pak... Makasih banyak, Pak," bisik Ragil patah-patah, masih berusaha mencerna takdir ajaib apa yang baru saja mengetuk pintunya malam ini.Bumi hanya mengangguk tipis, lalu memutar arah menuju kamar sempit di belakang. Pria itu menyelinap masuk ke dalam kamar yang gelap, dan mengunci pintu.Bumi mendekati kasur, membentangkan selimut tebal tambahan di atas tubuh Maura yang masih lelap. Begitu merasakan kehangatan ekstra, tubuh Maura yang tadinya agak meringkuk perlahan rileks lagi.Bumi merebahkan tubuhnya di samping sang istri, menyelusup masuk ke balik selimut yang sama, lalu merengkuh pinggang Maura dari belakang.Maura yang setengah terbangun karena pergerakan itu bergumam halus, menyandarkan punggungnya makin rapat ke dada tegap suaminya. "Dari mana...""Habis nongkrong sama adik ipar," bisik Bumi d
Read more