LOGIN"Ini Pak Supri niatnya ngasih makan malam apa mau bikin syukuran?" ucap pria itu, memijat pelipisnya sambil menatap hamparan kuliner yang sanggup memberi makan satu peleton tentara itu.Maura, yang mulutnya masih penuh dengan irisan nanas berbumbu ulekan pedas, cuma tertawa kecil sampai matanya menyipit. "Coba tanyain, Mas. Udah ambil beneran belum!""Orang bawa sekantong kok, tadi." sahut pria itu."Yaudah, dimakan dong. Jangan diliatin doang."Tangan kecilnya yang cepat terulur mengambil sebatang sate ayam, mengunyahnya dengan ekspresi begitu bahagia, membuat pendar lampu-lampu jalanan Kota Yogyakarta di luar jendela seolah makin mempercantik binar di matanya.Rasa lelah akibat perjalanan berjam-jam mendadak menguap begitu saja, tergantikan oleh suasana hangat di sudut ruangan berpenyejuk udara itu.Bumi lalu menggeser satu kotak soto ayam mendekati dirinya."Habisin itu rujaknya, tapi bumbunya jangan diserap semua," kata Bumi, sambil menyeruput kuah soto. "Kalau besok pagi kamu mul
Pintu kamar Executive Suite itu tertutup rapat, menyisakan keheningan mewah yang hangat.Sepatu itu berserak di dekat pintu, perempuan itu berjalan cepat langsung ke kasur dan menjatuhka diri disana. Menelungkupkan wajahnya di atas tumpukan bantal, membiarkan lelah menumpas seluruh energinya.Bumi yang baru saja meletakkan koper di sudut ruangan cuma bisa menghela napas halus. Pria itu melepas kacamatanya, mengusap wajahnya yang keletihan, lalu melempar benda berbingkai itu ke atas meja rias. Kaos abu-abu tipisnya sudah berganti dengan kaos hitam santai yang longgar.Dia mendekati tempat tidur, lalu duduk di pinggir kasur tepat di samping Maura. Tangannya terangkat, mengusap pelan punggung istrinya."Jangan tidur tengkurap gitu, Sayang. Kasihan perut kamu," tegur Bumi.Maura cuma menderam pelan, membalikkan tubuhnya miring menghadap Bumi dengan mata yang separuh melek. "Capek banget, Mas... badan aku kayak mau copot.""Makanya mandi dulu biar seger," usul Bumi mengusap rambut karamel
Mobil melaju menembus kabut perbukitan. Perjalanan yang semula diperkirakan mulus itu rupanya diwarnai banyak drama. Baru satu jam Maura tertidur, ia mendadak terbangun saat mobil berhenti di rest area krena Pak Supri ke kamar mandi.Tak cuma bangun, dia langsung merengek tak jelas minta rujak buah. Mana ada rujak buah di rest area? Ya kan?Akhirnya suaminya tetap keluar, lama, bahkan saat Pak Supri kembali diabelum juga balik. Tapi saat ke mobil lagi bukan rujak buah yang dia bawa, tapi salat buah.Maura melotot menatap wadah transparan di tangan Bumi. Rasa kantuknya menguap, mendadak memicing melihat itu."Aku minta rujak buah, bukan buah potong diguyur keju sama mayones begini!" ucapnya datar.Bumi cuma menatap, megangkat alisanya dan menyanggah tubuhnya masuk kembali ke dalam mobil dalam diam."Nggak ada rujak buah disini." dia menoleh, "Nanti cari kalau udah turun tol." lanjutnya kembali merengkuh bahi sang istri.Alasan yang sangat masuk akal, tapi Maura tetap cemberut. Matanya
Bahu kiri hoodie yang Bumi pakai basah kuyup akibat menahan guyuran hujan saat menuntun Maura kembali ke mobil. Begitu pintu mobil tertutup, suara gemuruh dati luar seakan terisolasi, hawa dingin bercampur aroma hujan langsung mengepung kabin.Bumi bergerak cepat. Pria itu melepas kacamata, lalu menyilangkan kedua tangannya ke bawah untuk meloloskan hoodie tebal yang basah itu melewati kepala. Menyisakan kaos polos abu-abu tipis yang mencetak jelas garis-garis dada tegapnya. Pria itu melempar hoodie basahnya ke kursi baris ketiga, lalu mengacak rambutnya yang agak lembap sebelum kembali memakai kacamatanya.Saat itulah dia baru sadar, istrinyafi sebelah tampa diam saja. Maura duduk mematung. Pandangannya kosong menatap rintik air yang meluncur deras di kaca jendela luar. Pak Supri yang mengerti situasi dengan bijak mematikan audio mobil, menyisakan hanya dentuman hujan yang menghantam atap besi.Bumi bergeser mendekat. Tanpa mengusik lamunan istrinya, pria itu merangkul bahu Maura, m
Bumi tersenyum tipis, sebuah senyuman tenang yang selalu berhasil meredam kepanikan. Pria itu mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan hangat di punggung tangan Maura yang ada di genggamannya."Kan ada Mas di sini," kata Bumi penuh kepastian, suaranya berat dan menenangkan di tengah deru suara hujan yang menghantam atap mobil. "Salah atau benar, kita cari tahu sama-sama. Kamu nggak usah khawatir."Belum sempat Maura membalas, kaca jendela di sisi Bumi diketuk pelan. Pak Supri sudah berdiri di luar membawa payung yang sudah terkembang."Yuk," bisik Bumi, mengusap lembut pipi Maura sebelum meraih gagang pintu. "Saatnya kita cari tahu."Bumi membuka pintu mobil lebih dulu, menyambut payung yang disodorkan Pak Supri. Dengan sigap, pria itu memposisikan payung besar tersebut tepat di atas tubuh istrinya, membiarkan bahu kirinya sendiri terciprat air hujan demi memastikan Maura tak tersentuh setetes pun air dingin."Awas licin," bisik Bumi merengkuh bahu istrinya rapat-rapat, memandu langk
Katanya di darerah sini dua hari terakhir hujan terus, siangnya.Pukul setengah tujuh pagi, mobil perlahan membelah kabut tipis yang masih menggantung rendah di atas jalanan aspal.Di kursi baris kedua, Maura duduk tenang tepat di sisi suaminya. Mengenakan sweater rajut krem yang longgar dan dress panjang, penampilannya terlihat hangat dan manis. Matanya yang bulat tak pernah lepas menatap keluar jendela, mengamati rumah-rumah warga, yang berbeda sekali dengan di kota mereka.Tapi di balik tatapan itu, cacing-cacing di dalam perut Maura rupanya sedang berdemo. Sejak mengunci pintu kamar hotel tadi, bibirnya tak henti-hentinya menggumamkan kalimat yang sama."Sarapan apa enaknya ya..."Bumi yang duduk di sampingnya terkekeh pelan. Pria itu menyandarkan punggungnya santai, membiarkan sebelah tangannya merangkul bahu Maura."Lapar banget?" bisik Bumi hangat, lalu menunduk sebentar untuk mengecup pelipis istrinya yang tertutup helai rambut halus.Maura langsung menoleh, menatap suaminya d
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s







