Share

300.

Author: anfebizha
last update publish date: 2026-09-17 21:48:29

Niatnya mau tidur seharian agar pulih, tapi kenyataan berkata lain. Masih pagi sebenarnya, masih jam sembilan, kondisi sang CEO Arkatama bukannya membaik, malah makin mengenaskan. Obat lambung dari Pak Supri rupanya menyerah melawan dahsyatnya racun soto jalanan.

Bumi kini meringkuk pasrah di tengah kasur, memeluk dirinya sedniri dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin sebesar biji jagung membasahi pelipisnya.

Maura yang tadinya berniat ikut santai, mendadak hilang kesabaran melihat suaminy
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sachiko TheAngelofdead
sisain 1 yang kek bumi ya tuhan.. buat aku
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Pengganti Mas Dosen   302.

    Malam pun tiba. di kamar hotel yang tenang itu, setelah seharian penuh Bumi sukses beristirahat dan memulihkan tenaganya, perut mereka berdua mulai menyuarakan haknya. Demi keamanan lambung sang Dosen yang baru saja dihajar racun soto, Maura sengaja memesan room service menu sehat dari hotel.Tak lama, beberapa porsi makanan rumah sakit bertopeng sajian hotel bintang lima tersaji rapi di meja makan dekat jendela. Aromanya... jujur saja, hampir tidak ada.Maura menyendokkan kuah bening berisi potongan wortel dan brokoli ke mulutnya. Di saat yang sama, Bumi menyuap sedikit nasi tim dan sup ayam bening tanpa lemak.Hanya butuh waktu satu detik setelah suapan pertama mendarat di lidah.Keduanya mendadak diam. Maura mengunyah sangat perlahan, sementara Bumi menahan sendoknya di udara. Detik berikutnya, pandangan mata mereka saling bertemu. Tatapan kosong bercampur syok itu perlahan berubah menjadi kerutan di kening."Pfft... hahahaha!"Tanpa dikomando, ledakan tawa renyah pecah di antara m

  • Istri Pengganti Mas Dosen   301.

    Bumi kekeh pelan. "Kenapa? Cemburu kan?" tanya pria itu jail, padahal mukanya masih pasi masih bisa menjahili istrinya."Kamu nggak liat muka orang-orang, nggak liat apa ada aku disini. Emang dikira aku ini siapamu? Babumu?" omel Maura nyerocos."Ssttt... ingat hamil. Mulutnya..." sahut Bumi."Gak usah sok manis!" desis Maura sengit. Tak bisa dipungkiri, memang sudah cemburu maksimal dia."Mas serius, mana ada babu galaknya kayak gini. Mereka cuma nggak tau," gumam Bumi, memamerkan senyum tipis menyebalkan yang sukses membuat Maura makin naik darah."Oh, jadi kamu ngebela?!" Maura melotot, matanya mendelik lebar bak ingin menelan pria dihadapannya bulat-bulat. "Aku ini berdiri di samping brankar dari tadi, ya! Perut udah buncit begini, tapi suster-suster tadi melirik kamu kayak ngeliat diskonan baju merk terkenal! Mana kamu pake acara senyum-senyum pasrah! Kesenengan?! Gatal banget, tau gak?!""Tadi itu Mas cuma lemes...""Lemes apa lemes?! Kalo lemes mah merem, bukan malah tebar peso

  • Istri Pengganti Mas Dosen   300.

    Niatnya mau tidur seharian agar pulih, tapi kenyataan berkata lain. Masih pagi sebenarnya, masih jam sembilan, kondisi sang CEO Arkatama bukannya membaik, malah makin mengenaskan. Obat lambung dari Pak Supri rupanya menyerah melawan dahsyatnya racun soto jalanan.Bumi kini meringkuk pasrah di tengah kasur, memeluk dirinya sedniri dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin sebesar biji jagung membasahi pelipisnya.Maura yang tadinya berniat ikut santai, mendadak hilang kesabaran melihat suaminya yang meraung halus setengah sadar."Mas! Udah ah, enggak ada alibi-alibian lagi! Pokoknya sekarang kita ke rumah sakit!" seru Maura tegas sambil berdiri di samping ranjang, kedua tangannya bertengger kokoh di pinggang buncitnya."Enggak..." gumam Bumi serak, membuka matanya sedikit untuk melihat sang istri. Tanpa kacamata, matanya menyipit memelas. "Nanti... masuk berita. CEO Arkatama masuk IGD gara-gara soto..." dia masih berusaha bercanda."Alesanmu nggak jelas?!" Maura mengomeli gemas, mata

  • Istri Pengganti Mas Dosen   299.

    "Kenapa bangun?" gumam Maura, menelan sisa nasi di mulutnya.Dia mendekat ke sisi ranjang, mendaratkan bokongnya di samping suaminya. Jemarinya otomatis saja mendara di rambut pria itu, mengusapnya ke belakang.Bumi mendongak, menatapnya sayu."Makan dulu ya, habis itu minum obat." kata perempuan itu, mendekatkan wajahnya.Bumi menyambutnya dengan usapan lembut di pipinya. Bahu kokoh itu tampak bergerak, menonjol, seiring tangannya yang bergerak."Udah sarapan?" tanya suaminya.Maura mengangguk kecil."Ambilin makanku," lanjut Bumi.Maura menghela napas halus, tetapi sudut bibirnya tak bisa menahan senyum geli. Dia bangkit lagi, mengambil bubur ayam dan satu botol air mineral.Ketika dalam mode sakit begini, aura putra mahkota Arkatama yang kaku, dingin, dan berjarak seolah menguap tanpa sisa. Perbedaan usia sepuluh tahun di antara mereka mendadak tak berjejak.Bumi kini tak ubahnya bagai seorang bocah yang merengek menuntut perhatian penuh. Sementara Maura, dengan kehangatan naluri k

  • Istri Pengganti Mas Dosen   298.

    Maura mendengus, tapi tidak menolak saat tubuh buncitnya ditarik pelan ke dalam dekapan Bumi. Pria itu menyembunyikan wajah pucatnya di lehernya, menghirup aroma familiar istrinya seolah-olah itu obat paling ampuh mengusir mual. Tangan tegapnya yang agak dingin melingkar protektif di pinggang sang istri."Gengsi banget ke rumah sakit. Malu ya cowok ganteng kek gini, ketahuan tumbang gara-gara soto?" sindir Maura, meski jemari kecilnya sibuk memijat lembut tengkuk dan mengusap-usap rambut lembap suaminya."Bukan gengsi..." gumam Bumi lirih, suaranya teredam di ceruk leher. "Entar pencarian ibu makin ketunda kalau ke rumah sakit."Mendengar bisikan lemas itu, hati Maura mendadak hangat. Di tengah kondisinya yang teler berat begini, pria kaku ini rupanya masih memikirkan tujuan utama perjalanan mereka. Maura mengecup pelipis Bumi sebentar."Katanya masih ada waktu sebulan," bisik Maura lembut.Saat itulah HP di atas nakas bergetar. Pesan balasan dari Pak Supri masuk, mengabarkan kalau be

  • Istri Pengganti Mas Dosen   297.

    "Ini Pak Supri niatnya ngasih makan malam apa mau bikin syukuran?" ucap pria itu, memijat pelipisnya sambil menatap hamparan kuliner yang sanggup memberi makan satu peleton tentara itu.Maura, yang mulutnya masih penuh dengan irisan nanas berbumbu ulekan pedas, cuma tertawa kecil sampai matanya menyipit. "Coba tanyain, Mas. Udah ambil beneran belum!""Orang bawa sekantong kok, tadi." sahut pria itu."Yaudah, dimakan dong. Jangan diliatin doang."Tangan kecilnya yang cepat terulur mengambil sebatang sate ayam, mengunyahnya dengan ekspresi begitu bahagia, membuat pendar lampu-lampu jalanan Kota Yogyakarta di luar jendela seolah makin mempercantik binar di matanya.Rasa lelah akibat perjalanan berjam-jam mendadak menguap begitu saja, tergantikan oleh suasana hangat di sudut ruangan berpenyejuk udara itu.Bumi lalu menggeser satu kotak soto ayam mendekati dirinya."Habisin itu rujaknya, tapi bumbunya jangan diserap semua," kata Bumi, sambil menyeruput kuah soto. "Kalau besok pagi kamu mul

  • Istri Pengganti Mas Dosen   4. Teori dari mana itu?

    “Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang

  • Istri Pengganti Mas Dosen   3. Mustahil

    Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T

  • Istri Pengganti Mas Dosen   2. Pesan Penentuan

    Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta

  • Istri Pengganti Mas Dosen   1. KULKAS DUA PINTU BERJALAN

    Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status