LOGINBahu kiri hoodie yang Bumi pakai basah kuyup akibat menahan guyuran hujan saat menuntun Maura kembali ke mobil. Begitu pintu mobil tertutup, suara gemuruh dati luar seakan terisolasi, hawa dingin bercampur aroma hujan langsung mengepung kabin.Bumi bergerak cepat. Pria itu melepas kacamata, lalu menyilangkan kedua tangannya ke bawah untuk meloloskan hoodie tebal yang basah itu melewati kepala. Menyisakan kaos polos abu-abu tipis yang mencetak jelas garis-garis dada tegapnya. Pria itu melempar hoodie basahnya ke kursi baris ketiga, lalu mengacak rambutnya yang agak lembap sebelum kembali memakai kacamatanya.Saat itulah dia baru sadar, istrinyafi sebelah tampa diam saja. Maura duduk mematung. Pandangannya kosong menatap rintik air yang meluncur deras di kaca jendela luar. Pak Supri yang mengerti situasi dengan bijak mematikan audio mobil, menyisakan hanya dentuman hujan yang menghantam atap besi.Bumi bergeser mendekat. Tanpa mengusik lamunan istrinya, pria itu merangkul bahu Maura, m
Bumi tersenyum tipis, sebuah senyuman tenang yang selalu berhasil meredam kepanikan. Pria itu mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan hangat di punggung tangan Maura yang ada di genggamannya."Kan ada Mas di sini," kata Bumi penuh kepastian, suaranya berat dan menenangkan di tengah deru suara hujan yang menghantam atap mobil. "Salah atau benar, kita cari tahu sama-sama. Kamu nggak usah khawatir."Belum sempat Maura membalas, kaca jendela di sisi Bumi diketuk pelan. Pak Supri sudah berdiri di luar membawa payung yang sudah terkembang."Yuk," bisik Bumi, mengusap lembut pipi Maura sebelum meraih gagang pintu. "Saatnya kita cari tahu."Bumi membuka pintu mobil lebih dulu, menyambut payung yang disodorkan Pak Supri. Dengan sigap, pria itu memposisikan payung besar tersebut tepat di atas tubuh istrinya, membiarkan bahu kirinya sendiri terciprat air hujan demi memastikan Maura tak tersentuh setetes pun air dingin."Awas licin," bisik Bumi merengkuh bahu istrinya rapat-rapat, memandu langk
Katanya di darerah sini dua hari terakhir hujan terus, siangnya.Pukul setengah tujuh pagi, mobil perlahan membelah kabut tipis yang masih menggantung rendah di atas jalanan aspal.Di kursi baris kedua, Maura duduk tenang tepat di sisi suaminya. Mengenakan sweater rajut krem yang longgar dan dress panjang, penampilannya terlihat hangat dan manis. Matanya yang bulat tak pernah lepas menatap keluar jendela, mengamati rumah-rumah warga, yang berbeda sekali dengan di kota mereka.Tapi di balik tatapan itu, cacing-cacing di dalam perut Maura rupanya sedang berdemo. Sejak mengunci pintu kamar hotel tadi, bibirnya tak henti-hentinya menggumamkan kalimat yang sama."Sarapan apa enaknya ya..."Bumi yang duduk di sampingnya terkekeh pelan. Pria itu menyandarkan punggungnya santai, membiarkan sebelah tangannya merangkul bahu Maura."Lapar banget?" bisik Bumi hangat, lalu menunduk sebentar untuk mengecup pelipis istrinya yang tertutup helai rambut halus.Maura langsung menoleh, menatap suaminya d
Pencapaian puncak di atas wastafel dingin itu menyisakan napas yang bersahut-sahut. Bumi masih enggan memurai dekapan. Kedua tangannya yang kokoh melingkar posesif di pinggul sang istri, wajahnya bersandar pasrah di perpotongan leher Maura yang bersimbah peluh tipis."Napas kamu... boros banget." bisik Maura lirih, tersengal di antara sisa lenguhan yang belum sepenuhnya mereda. Tangan kecilnya perlahan merayap naik, mengusap lembut rambut belakang Bumi yang sedikit basah oleh keringat.Pria itu terkekeh rendah. Tawa basnya bergetar langsung di leher, memicu desir halus yang membuat sang istri kembali meremang. Dia menyapukan bibirnya di ceruk leher, mendaratkan kecupan-kecupan kecil beruntun sebagai tanda terima kasih atas kenikmatan membakar yang baru saja mereka bagi."Maaf sebentar banget, nggak tahan," gumam Bumi serak, mengangkat kepalanya perlahan untuk menatap mata Maura yang masih berembun. Senyum tipis terukir di bibirnya yang basah. "Istriku luar biasa malam ini."Wajah Maur
Jeritan Maura tertelan bulat-bulat di dalam rongga mulut Bumi. Pria itu menyerang tanpa ampun, mengunci tengkuk Maura dengan sebelah tangannya, sementara tangan lainnya mematikan aliran air dari shower yang baru saja menyiram mereka. Bumi rupanya masih punya sisa akal sehat untuk tidak membiarkan baju istrinya basah kuyup.Lumatan Bumi terasa makin intens, menuntut dan tergesa-gesa seolah pria itu sudah menahan lapar selama berabad-abad.Maura yang tadinya berniat menepuk dada bidang suaminya sebagai bentuk protes, justru mendapati jemari kecilnya perlahan merambat naik, meremas bahu tegap Bumi yang polos. Suara decakan basah dan napas yang memburu bersahut-sahut memenuhan ruang kamar mandi, beradu dengan detak jantung mereka yang kian memutar gila."Mmmh... Mas..." Maura akhirnya berhasil mencuri napas saat Bumi memindahkan ciumannya ke garis rahang, lalu turun memagut leher jenjang Maura yang kini meremang hebat."Sumpah, Mas nggak tahan," bisik Bumi dengan suara yang begitu serak d
"Bisa diem nggak sih?!" Maura meringis pasrah, berusaha sekuat tenaga menepis jemari panjang suaminya yang bergerak makin liar. Namun bukannya kapok, pria tegap itu malah makin sengaja merapatkan tubuhnya, memenjarakan pinggang Maura hingga tidak ada lagi celah di antara mereka.Bumi menundukkan kepala, membiarkan deru napas hangatnya berembus tepat di ceruk leher, menyapu kulit halus istrinya hingga membuat sang istri meremang seketika."Kan tadi Mas bilang, ini buat melancarkan sirkulasi darah, Sayang. Apalagi bagian yang tegang-tegang gini... harus sering diusap biar ototnya rileks," bisik Bumi rendah, suaranya yang berat dan serak bergetar tepat di samping telinga Maura.Bumi sengaja menyentuhkan ujung hidungnya ke kulit leher, menyesap aroma harum khas istrinya yang selalu berhasil melumpuhkan logika.Bibirnya yang hangat mulai mendaratkan kecupan-kecupan kecil di sana, merambat perlahan menuju rahang lalu berhenti tepat di sudut bibir Maura."Udah... ak-""Mas berniat negosiasi?
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s







