Lampu merah berukuran besar di atas pintu ruang operasi masih menyala terang. Koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik itu menjadi saksi bisu betapa mencekamnya suasana sejak dua jam lalu.Di depan pintu ruang operasi, Bumi kehilangan seluruh ketenangannya. Kemeja putihnya sudah kusut, dua kancing teratasnya terbuka, dan rambut rapinya berantakan karena jemarinya yang tak henti-hentinya meremas rambut lantaran panik luar biasa. Pria itu jalan mondar-mandir tanpa henti, melangkah lima langkah ke kiri, lalu berbalik lima langkah ke kanan.Sampai semua mata yang melihatnya pusing sendiri."Bumi, duduk dulu, Nak. Kamu jalan terus gitu Mama malah yang pusing ngeliatnya," tegur Mama sambung Maura lembut dari bangku tunggu, memangku Kiara.Papa duduk di sampingnya, menepuk bahu Bumi pelan saat menantunya itu melintas di depannya. "Tenang, Bumi. Dokter di dalam tim terbaik. Semua bakal baik-baik aja.""Iya, Mas CEO... Istighfar dulu," timpal Ragil yang duduk di sudut kursi, me
อ่านเพิ่มเติม