Maura menarik napas dalam-dalam, matanya bergerak liar mencoba mencari celah untuk kabur, tapi genggaman tangan Bumi di jemarinya justru menguat.“Ya udah, kalau Mama maksa,” ucap Bumi akhirnya.Gadis itu menoleh cepat, matanya melotot tajam ke arah Bumi. Bapak gila ya?! teriaknya dalam hati. Tapi Bumi sama sekali tidak menoleh. Dia justru memasang senyum tipis, sangat tipis sampai hampir tidak terlihat ke arah sang Mama.“Nah, gitu dong! Kan seru kalau rumah rame,” ucap Mama bungah. “Sana naik, Julian sama adiknya udah naik tuh. Siapa tau mau usaha bikin cucu buat mama.” godanya.Dan sekali lagi, Maura nyaris mati berdiri.Tante Widya langsung tertawa sambil menepuk lengan kakaknya. “Jangan gitu dong, Mbak. Maura malu tuh,” katanya jahil.“Ayo, Mama temenin sampai depan kamar ya?” ajak Mama Bumi hangat.Mau tak mau, Maura tetap menyeret kakinya menaiki tangga. Di belakangnya, Bumi mengikuti dengan langkah tenang. Sepanjang tangga, Mama tidak berhenti berceloteh tentang betapa bahagia
Last Updated : 2026-05-14 Read more