เข้าสู่ระบบ"Tuh kan! Nangis lagi! Bikin kepala pusing aja!" jerit Dira."Kamu benar-benar nggak punya hati ya, Dira!" bentak Mama yang akhirnya kehabisan kesabaran. Mama merebut botol susu di meja, lalu mengomeli Dira habis-habisan. "Mama bela-belain kamu, Mama turutin semua kemauan kamu, tapi kamu sekarang malah jadi ibu yang nggak bertanggung jawab! Maura aja yang bukan siapa-siapa, seneng baget liat anak kamu!"Nama Maura yang disebut Mama makin membakar emosi Dira. Dira berdiri, menunjuk boks bayi dengan napas memburu."Dia senenga karena menang!!! Kalau gitu kasihin aja anak ini ke Maura! Biar Maura sama Bumi yang urus!"Brak!Papa menggebrak meja tamu cukup keras."Cukup, Dira! Papa nggak pernah mengajari kamu jadi manusia nggak tahu diri seperti ini!" Papa menatap Dira dengan pandangan tajam penuh penyesalan. "Mulai hari ini, belajar jadi ibu. Urus anakmu sendiri. Kamu ini udah tua, bukan anak SD lagi!"Dira menggeram frustrasi, menghentakkan kakinya keras-keras lalu berjalan cepat menuju
"Ya, Pak Hendra. Bagaimana?" ucap Bumi setelah menempelkan HP di telinganya, langsung to the point.Pria berkacamata itu sedang menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya sebelumnya, memutar-mutar bolpoiny premium di antara jemarinya.Di seberang telepon, suara pria paruh baya yang merupakan detektif swasta kepercayaan Bumi terdengar jelas. "Selamat pagi, Pak Bumi. Soal pencarian yang Anda minta, kami sudah mendapatkan titik terangnya. Ibu Dewi saat ini terdeteksi tinggal di sebuah desa kecil di daerah lereng gunung di Jawa Tengah."Bumi menaikkan sebelah alisnya, tangannya yang memegang bolpoint berhenti bergerak. "Jawa Tengah? Sudah dipastikan?""Sudah, Pak. Berdasarkan data kependudukan lama dan beberapa penelusuran lewat kantor pemerintahan terkait, lokasinya valid. Hanya saja, untuk verifikasi langsung lokasi yang bersangkutan, tim kami terkendala jarak. Kalau Pak Bumi mau kami langsung meluncur ke lokasi untuk memastika, kami bisa atur... tentu dengan tambahan biaya operasional.
Dadanya berdesir hangat, ada rasa haru yang menyelusup pelan di benaknya. Entah. Melihat ketulusan Maura yang begitu menyayangi bayi mungil itu, tanpa menyimpan dendam sedikit pun pada keluarga yang sebelumnya tak berpihak padanya. Membuat Mama merasa tersentil.Tatapan Maura pada sang keponakan sungguh kontras dengan Dira yang sejak semalam hanya menunjukkan penolakan.Tapi, kehangatan itu seketika pecah saat suara ketus Dira memotong udara."Nggak usah pegang-pegang sembarangan!" sentak Dira tajam dari ranjangnya. Matanya menyalang penuh dengki dan amarah yang meluap-luap. "Tangan belum steril! Jangan asal sentuh pipi bayi!"Mama lagsung menoleh. "Dira! Kamu apa-apaan sih, kok ngomongnya gitu?!" tegur Mamanya, tiba-tiba."Dira nggak suka ya, Ma! Anak selingkuhan kayak dia nggak pantas nyentuh anak Dira!" lanjut Dira makin histeris.Maura beku, menghentikan jemarinya yang hendak mengelus pipi bayi itu lagi. Binar bahagia di matanya sedikit redup.Bumi tak tinggal diam. Dengan gerakan
Pagi-pagi sekali, Bumi sudah bersiap memboyong Maura pulang dari rumah sakit. Alasannya sangat mendasar dan mulia. Pak Dosen idolanya para mahasiswa ini ada jadwal mengajar jam delapan pagi di kampus!Tapi dia masih menyempatkan diri untyk mengunjungi keponakannyayang baru lahir, sambil membawa parsel besar berisi perlengkapan bayi yang dia pesan semalam."Banyak banget?" protes Maura, menatap tumpukan popok, baju bayi, hingga sterilizer botol yang memenuhi jok belakang."Sebagai adik ipar yang berbakti dan berakhlak mulia, Mas harus kasih salam perpisahan yang berkesan sebelum kita pulang." jawab Bumi santai, membetulkan kacamata."Lah?" Maura melotot curiga. "Kamu nggak ada niat nyari ribut pagi-pagi gini, kan?""Nyari ribut? Nggak lah. Mas kan dosen, sukanya menyebarkan perdamaian," sahut Bumi dengan kerlingan jahil."Nggak percaya,"Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berdiri di depan pintu kamar rawat Dira di lantai tiga. Bumi mendorong pintu itu sambil menenggang parsel raksasa
"Kok malah bawa-bawa Leon sih?!" Maura meringis, memukul lengan tegap suaminya pelan. Rasa mualnya mendadak menguap sedikit, atas tingkah acuh tak acuh Pak Dosen yang terkesan memaksakan komedi di tengah suasana kelam."Ya habisnya kamu ngelindur," jawab Bumi santai, meski dalam hatinya menghembuskan napas lega melihat binar kehidupan kembali ke mata istrinya. Dia mendekatkan wajahnya, membedah tatapan Maura dengan kehangatan yang amat dalam. "Dengar ya, Nyonya Maura Arkatama. Mas nggak peduli kamu anak siapa, mau anak raja, anak presiden, atau anak siapapun. Di mata Mas, kamu cuma Maura. Maura istri Mas. Ibu dai anak-anak Mas. Paham."Hati Maura yang semula pecah berkeping-keping seolah ditata kembali oleh kalimat tegas nan manis itu. Air matanya menetes lagi. Entah terharu atau cuma ingin menangis. Bibirnya manyun, lucu. "Peluk." lalu katanya.Bumi tersenyum tipis, lalu membungkuk dan merengkuh tubuh mungil Maura ke dalam pelukannya.Dekapan hangat itu menyalurkan rasa aman yang ama
Senyum lebar di wajah sang Mama mendadak lenyap tanpa sisa. Matanya melotot kaget tatkala mendapati suaminya terbaring terlentang dengan napas memburu patah-patah, sambil menangis."Papa?!" pekik sang Mama histeris seketika.Dia melangkah lebar memangkas jarak, meraih gelas plastik beraroma teh tawar di atas nakas dengan tangan yang bergetar."Diminum dulu, Pa! Kenapa bisa kayak gini, sih?! Jangan bikin Mama panik!" pekiknya menyodorkan sedotan ke bibir suaminya yang pucat pasi.Papa menggeleng lemah, menolak minum. Air matanya terus menetes membasahi bantal, membuat jejak basah yang menyayat hati."Maura..." bisik Papa lirih. "Maura ma..."Mendengar nama putri bungsunya disebut, raut panik di wajah sang Mama seketika surut, berganti dengan kilatan jengkel yang amat nyata. Dia menaruh lagi gelas itu ke meja dengan sentakan kasar hingga sedikit airnya terpercik keluar."Udah, kamu nggak usah mikirin Maura!" geramnya sengit. "Anak itu cuma bisa bikin ribut! Mama suruh kesini buat jagain
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T







