ログインPria itu menuntun langkah Maura menuruni balai-balai kayu menuju tepian sungai. Begitu telapak kaki mereka yang bertelanjang menyentuh dinginnya air yang jernih, Maura berjingkat kecil. sebelum tertawa kegirangan."Dingin banget, Mas!" pekik Maura heboh, sibuk menggerak-gerakkan jemari kakinya di antara bebatuan halus."Awas licin, Sayang. Pegangan," peringat Bumi posesif.Bukannya melepas, ia malah melingkarkan lengan kirinya di pinggang Maura dari belakang, menahan bobot tubuh istrinya agar tetap stabil."Mbak Maura! Mas Bumi! Sini!" seru Arka heboh dari tengah aliran sungai, langsung menyiramkan air dengan kedua tangan kecilnya ke arah mereka."Nggak boleh. Bahaya di tengah." dari satu sisi Ibu melarang."Nggak apa-apa, Bu, di sini dangkal kok," sahut Bumi dari pinggiran sungai, suaranya tetap tenang meski cipratan air dari Arka sukses mendarat tepat di kaos polo mewahnya. Dingin.Maura yang berada di dalam dekapan Bumi langsung tertawa terbahak melihat bercak basah di dada suaminy
Maura mendelik gemas. "Bukannya kamu malah seneng nggak jadi nikah sama aku?!""Yah... marah!"Bu Dewi terkekeh renyah setelahnya. Rasa sesak dan kepedihan masa lalu yang sempat menggantung tebal di udara berangsur buyar berkat."Mbak Maura! Mas Bumi! Ayo cepat! Airnya dingin banget!" seru Arka heboh dari dasar lembah. Bocah itu sudah melepaskan sandalnya, berdiri di pinggiran aliran sungai dangkal berbatu halus sambil melempar cipratan air ke arah Ragil."Arka, jangan main ke tengah!" tegur Bu Dewi setengah berteriak, mempercepat langkah turunnya, meninggalkan sepasang suami istri itu di belokan tangga terakhir.Sesampainya di bawah, gemuruh air terjun yang membentur bebatuan besar menyajikan kesegaran yang luar biasa. Angin membawa titik-titik air halus yang menyapa wajah, membuat Maura memejamkan mata sejenak untuk menikmati suasana yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Bumi menggelar tikar plastik di atas balai-balai kayu yang teduh di bawah rindangnya pohon besar. "Duduk dulu,
Mobil hitam itu bergerak makin pelan saat melintasi jalanan perbukitan. Jalanan beton yang dipayungi oleh rimbunnya pohin-pohon pinus yang menjulang tinggi, menyaring sinar matahari pagi menjadi berkas-berkas cahaya keemasan yang jatuh di sepanjang jalan. Bau udara pegunungan yang murni menyelinap masuk lewat celah kaca mobil yang dibuka sedikit oleh ibu.Di baris tengah, Maura tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Wajah cantiknya menempel di jendela kaca, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak ke taman bermain. Baginya yang terbiasa dengan hutan beton dan polusi kota, pemandangan hijau yang membentang luas di lereng lembah ini benar-benar memanjakan mata."Bagus banget, Bu..." bisik Maura antusias, jarinya menunjuk ke arah celah pepohonan tempat aliran sungai kecil berair jernih tampak berkilau di bawah sana."Bagus banget kan, mbak...!" seru Arka dati belakang. Yang mulutnya langsung di bekap oleh masnya karena tidak sopan, katanya."Untuk bisa ket
Asap tipis membumbung dari piring-piring yang tertata rapi di atas meja kayu panjang di ruang tengah. Sarapan pagi itu benar-benar bersahaja, nasi hangat, tempe goreng tepung, sambal terasi, dan urap sayur berisi kenikir dan tauge segar.Bumi duduk bersila di tikar pandan bersama suami Bu Dewi dan Ragil, sementara Arka kecil sibuk mengunyah tempe di sebelah maura, diseberangnya. Bu Dewi sibuk menuangkan teh hangat manis dari teko tua.Diam-diam Maura menatap suaminya dengan cemas. Ia tahu betul bagaimana pencernaan Bumi yang sensitif terhadap makanan apalagi makanan level bawah begini. Masih sangat jelas teringat kejadian kemarin saat pria itu sempat kelimpungan gara-gara makanan pinggir jalan.Tapi di hadapannya sekarang, pria yang terbiasa makan di restoran berbintang itu justru makan dengan begitu lahap. Bumi bahkan sudah menambah porsi nasinya, menyiramkan sendok demi sendok urap sayur dan melahap tempe goreng dengan tenang.Di tengah riuhnya obrolan sang bapak yang antusias mence
Ya, selimut orang kaya."Sudah, tidur sana. Nanti game-nya diterusin besok lagi. Kasihan mata kamu, udah merah itu," ucap Bumi datar, namun sarat akan perhatian seorang kakak."I-iya, Pak... Makasih banyak, Pak," bisik Ragil patah-patah, masih berusaha mencerna takdir ajaib apa yang baru saja mengetuk pintunya malam ini.Bumi hanya mengangguk tipis, lalu memutar arah menuju kamar sempit di belakang. Pria itu menyelinap masuk ke dalam kamar yang gelap, dan mengunci pintu.Bumi mendekati kasur, membentangkan selimut tebal tambahan di atas tubuh Maura yang masih lelap. Begitu merasakan kehangatan ekstra, tubuh Maura yang tadinya agak meringkuk perlahan rileks lagi.Bumi merebahkan tubuhnya di samping sang istri, menyelusup masuk ke balik selimut yang sama, lalu merengkuh pinggang Maura dari belakang.Maura yang setengah terbangun karena pergerakan itu bergumam halus, menyandarkan punggungnya makin rapat ke dada tegap suaminya. "Dari mana...""Habis nongkrong sama adik ipar," bisik Bumi d
Malam makin larut, hawa dingin pegunungan makin menusuk hingga ke tulang. Meski Maura sudah lelap dalam dekapan hangatnya, Bumi bisa merasakan tubuh istrinya sesekali menggigil tipis. Kasur busa di atas keramik itu benar-benar mengalirkan dingin tanpa ampun.Bumi mengelus lengan Maura pelan, memindahkan kepala istrinya ke bantal. Pria itu menyibak selimut, berdiri perlahan, lalu menyelinap keluar kamar.Dia butuh selimut, dan ada selimut di mobil.Suasana rumah begitu remang dan sunyi. Begitu langkah kaki Bumi melewati lorong kecil menuju ruang tamu, disana Pak Supri tidur. Tidak sendiri, di seberang meja ada sosok lain berbaring di kursidengan HP di tangannya.Bumi menghentikan otomatis. Itu pasti Ragil, anak sulung Ibu Dewi, adik laki-laki pertama Maura yang kamarnya sedang mereka pakai.Bumi mendekat santai, berhenti di depan pintu untuk membuka kunci. "Belum tidur, Gil?" sapanya lalu.Ragil sedikit terlonjak, mengalihkan pandangannya sebentar dari layar, lalu mengangguk canggung d
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T







