Bumi turun dari kamar Maura setelah mandi, meninggalkan istrinya yang masih lelap berguling selimut. Suasana rumah mertuanya di pagi hari terasa begitu hangat, sangat berbeda dengan rumah minimalisnya yang biasanya sepi dan hanya didominasi suara mesin kopi. Dan baru-baru ini, diisi dengan kehadiran Maura. Ya, hanya Maura.Di meja makan, sang mama sedang sibuk menata mangkuk besar berisi sayur lodeh yang asapnya masih mengepul tipis, bersandingan dengan sepiring penuh ayam goreng.Sang papa sudah duduk dengan tenang sambil menyesap kopi."Udah mandi aja," kata sang papa, menyambut."Iya Pa. Pagi ma," sapa Bumi kepada mama mertuanya."Eh, Nak Bumi. Pagi," balas Mama dengan senyum sumringah khas ibu-ibu. Wanita paruh baya itu mengedarkan pandangannya ke arah tangga di belakang Bumi, lalu mengernyit heran. "Loh, Maura nggak ikut turun?"Bumi menarik salah satu kursi kayu, lalu duduk santai."Masih tidur, Ma. Tadi mau Bumi bangunin kasihan, kayaknya capek banget," jawab Bumi lempeng.Papa
Zuletzt aktualisiert : 2026-06-07 Mehr lesen