LOGINUsai ritual memandikan dan mendandani Kiara yang diwarnai sedikit drama kehebohan, mulai dari Bumi yang kebingungan memasang popok hingga Maura yang gemas memoleskan minyak telon ke perut gendut sang bayi, bertiga mereka akhirnya siap meluncur.Kiara kini tampil menggemaskan berbalut jumpsuit rajut kuning gading dengan topi telinga kelinci yang terpasang rapi.Tujuan pertama pagi ini adalah klinik dokter spesialis kandungan untuk pemeriksaan rutin kehamilan Maura, sebelum melanjutkan agenda berat menuju laboratorium tes DNA pukul sepuluh nanti.Di ruang tunggu klinik yang bernuansa hangat dan tenang, kehadiran mereka bertiga tak pelak mencuri perhatian beberapa pasangan suami istri lainnya. Pemandangan seorang pria berpenampilan rapi dengan kacamata yang memangku bayi dengan sangat telaten, sementara sang istri yang hamil muda duduk bersandar nyaman di sampingnya, terlihat begitu harmonis.Janggal, jelas. Mana ada ibu hamil punya bayi yang masih beberapa bulan."Nyaman banget dia dipa
Jam dinding baru menunjukkan pukul lima pagi ketika Kiara mendadak merengek kehausan. Suara tangisan tipis yang makin lama makin nyaring itu seketika memicu alarm darurat di dalam kamar.Maura yang dasarnya berjiwa sigap langsung terduduk kaget. Awalanya dia celingkukan, setelah menoleh ke samping baru sadar ada keponakannya disitu. Dikeloni Bumi, hampir ditindih.Tak pikir panjang, dia menepuk-nepuk paha suaminya yang masih lelap itu dengan sangat tidak santai. Sayangnya bukan Bumi kalau mudah dibangunkan.Dia bangkit, mengikat rambut asal lalu menarik suaminya terlentang agar Kiara bisa keluar dari rengkuhanya. Dan menggendong bocah itu, menimangnya."Haus ya cantik, bentar ya..." timangnya. "Mas! Mas Bumi, bangun!" seru Maura lalu, menabok pundak Bumi.Bumi mengeluh berat, dia mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih berhamburan. "Jam berapa ini, Sayang...?""Jam lima! Ayo bangun!" Maura menarik lengan tegap Bumi sampai pria itu terseret dan terpaksa duduk.
Bumi menyimpan Hp istrinya istrinya di saku dengan santai, tanpa merasa bersalah sedikit pun setelah melontarkan kalimat horor yang sukses membuat Leon dan Risti mati kutu di seberang sana.Maura yang baru saja selesai memindahkan Kiara ke pelukannya mendelik lebar. Mukanya kini kembali membara."Mas Bumi! Ngapain ngomong begitu, sih?!" bisik Maura gemas, berusaha setengah mati menahan suaranya agar tetap pelan. "Bisa nggak, mulutnya disaring dikit? Itu Leon sama Risti pasti langsung jantungan!"Bumi menoleh tenang, melepas kacamata minusnya lalu mengelap lensanya pakai ujung kemeja. "Bagus kalau jantungan, biar otaknya agak terpacu buat berpikir rasional. Lagian, Mas cuma menyampaikan jalan keluar yang legal. Daripada bingung tanya sah atau enggak tiap malam, ya tinggal dihalalkan.""Ya tapi bahasanya kamu itu, lho." sengit Maura sinis, walau tangannya tetap sigap mengusap-usap punggung mungil Kiara yang sempat menggeliat pelan. "Gak ada halus-halusnya banget jadi dosen.""Faktual da
Kedua mobil itu akhirnya berpisah di persimpangan jalan keluar restoran. Mobil Papa berbelok ke arah barat, dan Bumi memutar kemudi ke arah timur, membelah malam Jakarta yang mulai merenggang dari kemacetan.Di dalam kabin mobil yang hangat dan sunyi, hanya terdengar deru halus mesin. Kiara tertidur pulas tanpa beban, napas kecilnya teratur berhembus.Maura terus-terusan melirik ke samping, memastikan selimut biru-pink itu masih membungkus rapi tubuh mungil keponakannya."Mas..." panggil Maura pelan."Hm?" gumam Bumi, matanya fokus menatap jalanan lengang di depannya dengan satu tangannya mengendalikan kemudi."Kok Mas tadi langsung ngide nyuruh aku bawa Kiara pulang sih? Bukannya biasanya Mas cemburu sama bocah ini?""Mas juga kangen, asal semalem aja.""Kenapa emang kalau dua malem, atau seminggu." pancing Maura."Enak aja. Kalau seminggu, kapan Mas bisa nidurin kamu.""Mesum!!""Bukan mesum, itu kebutuhan biologis yang sah menurut hukum dan agama," sahut Bumi santai, tanpa mengalih
Pintu yang ditutup dari luar mengakhiri jejak langkah Ethan yang baru saja meninggalkan ruangan. Suasana yang tadinya tegang seketika berubah jadi hening dan kuyu.Mama bahkan langsung menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Wajahnya yang biasa teduh kini tampak cemas."Pa... Mama takut," ucap Mama tak bisa menutupi kecemasannya itu.Papa menoleh, mengusap bahu istrinya mencoba memberi ketenangan, meski dia sendiri punya ketakutan yang tak beda jauh. "Takut kenapa, Ma? Kan tadi udah disepakati, tes DNA dulu.""Ya itu dia masalahnya..." Mama menggeleng pelan, matanya menatap Bumi, Maura dan suaminya bergantian. "Ethan itu bukan orang biasa, kita tahu itu. Kalau sampai hasil tes DNA besok terbukti positif Kiara anaknya, apa kita beneran bisa nahan Kiara di rumah kita? Mama takut dia pakai segala cara buat ambil cucu kita."Maura yang merasakan atmosfer makin berat refleks meremas lengan kemeja suaminya. Ia menatap Bumi penuh harap, tahu betul bahwa di saat-saat seperti inilah pemik
Mendapat izin dari Papa, Ethan tak memberi jeda untuk langsung menuju ke arah stoller itu. Dia menundukkan badannya, menatap wajah mungil Kiara yang tertidur lelap dengan napas teratur, berbalut selimut dan baju warna senada, biru dan pink. Bibir Ethan bergetar halus, tangannya terulur mengambang di udara, ingin rasanya menyentuh pipi tembam itu, namun akal sehatnya menahan jemarinya agar tak membuat sang bayi terbangun.Tak bisa dipungkiri, wajah itu, hampir sama dengan wajahnya.Ada kilat emosi dalam di matanya sebelum akhirnya ia menegakkan tubuh, berbalik, dan duduk di kursi yang telah disediakan.Suasana kembali menghening. Papa Ardi memajukan tubuhnya, menopang kedua lengan di atas meja."Kita langsung ke intinya saja ya, Mas," suara Papa memecah hening tanpa kompromi. "Kami tidak kenal anda, dan kami tak paham kenapa anda meminta bertemu.""Saya ingin menjenguk putri saya, Om," sahut Ethan mantap. Tatapannya lurus, menyiratkan keberanian yang sengaja dibentuk untuk menutupi get
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan







