Maura menelan ludah susah payah, merutuki bibir tipisnya yang hobi sekali mencari perkara.Mulut lo, Maura! Tolong dikondisikan! jeritnya frustrasi.Bukan apa-apa, dalam kondisi suasana yang tak efisien begini, bisa-bisa dia di terjang masuk ke kamar lagi. Dan hanya dua puluh persen saja dia bisa melawan.Bumi menelan sisa makanan di mulutnya pelan, sangat tenang, tapi justru ketenangan itulah yang membuat nyali Maura ciut sampai ke ukuran remah-remah rengginang. Dia kembali menaruh sendoknya ke kotak mika yang dentingnya seolah mengintrogasi."Kenapa harus nggak enak sama Dira?" tanya Bumi. Suaranya rendah, datar, dan tajam, menusuk tepat ke indra pendengaran Maura.Maura menggeser duduknya satu senti menjauh. "Ya, ya kan emang bener. Nanti dibilang saya ngerebut bap-""Maura..." Potong Bumi.Kata-kata gadis itu menggantung begitu saja di udara. Maura menahan napas, menatap takut-takut pada Bumi yang kini sepenuhnya menghentikan segala aktivitas makan.Terlihat pria itu ingin mengata
Last Updated : 2026-06-11 Read more