MasukIra baru saja selesai merapikan mejanya ketika pintu kamarnya diketuk. Begitu dibuka, ia terkejut melihat Rosa berdiri di depan pintu dengan rambut masih sedikit basah, mengenakan kemeja kebesaran pria.
“Rosa?!” serunya kaget. “Astaga, kamu dari mana? Kok bajumu, itu siapa yang punya?” Rosa menunduk malu, lalu masuk ke kamar setelah Ira menariknya. Ia duduk di tepi ranjang, wajahnya sembab meski sudah berusaha terlihat tenang. Ira menyipitkan mata. “Rosa, jangan bikin aku nebak-nebak. Ceritain semuanya. Kamu habis nangis, kan?” Rosa menghela napas panjang. Ia menatap sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca. Untuk sesaat ia ragu, tapi akhirnya bibirnya terbuka. “Ira, aku memergoki Bima selingkuh.” Ira membelalakkan mata. “Apa?!” Air mata Rosa kembali jatuh. “Aku datang ke apartemennya bawa bahan masakan, mau bikin kejutan. Ternyata aku yang dikasih kejutan. Dia tidur sama perempuan lain, di depan mataku.” Ira terdiam, lalu memeluk Rosa erat-erat. “Astaga, Rosa, kenapa kamu harus ngalamin ini.” Tangisan Rosa pecah di pelukan sahabatnya. “Dia bilang aku sok suci dan tidak menggairahkan, Ira. Aku merasa begitu rendah.” Ira menggeleng keras. “Jangan pernah percaya omong kosong itu. Kamu bukan masalahnya, Rosa. Dia yang brengsek!” Rosa menelan isakannya, lalu dengan suara lebih pelan ia melanjutkan. “Semalam aku mabuk. Dan aku nggak sengaja ketemu Kevin.” Ira terkejut lagi. “Kevin? Teman kakakmu, yang dulu kamu sukai itu kan?” Rosa mengangguk dan tersipu malu. “Dia yang nolong aku. Dia bawa aku ke apartemennya, biar aku nggak makin kacau.” Ira menatap Rosa lama, lalu mendesah. “Ya Tuhan, jadi kamu semalaman sama Kevin?” Rosa mengangguk. “Tapi dia nggak melakukan apa-apa. Justru dia yang jaga aku, Ira.” Ira perlahan tersenyum tipis. “Berarti kamu beruntung. Ada orang yang bener-bener peduli sama kamu, Rosa.” Rosa menatap lantai, hatinya campur aduk. Ia tahu Ira mungkin benar. Tapi rasa aman itu justru membuatnya semakin takut pada perasaan yang diam-diam mulai tumbuh. Ira melepaskan pelukannya perlahan, lalu duduk menghadap Rosa dengan wajah serius. “Rosa, aku senang kamu ketemu Kevin semalam. Syukurlah dia ada di saat kamu paling butuh. Tapi…” Ira berhenti sejenak, menimbang kata-kata, “…kamu juga harus hati-hati.” Rosa mengerutkan dahi. “Maksudmu?” Ira menatapnya tajam, penuh kekhawatiran. “Kevin itu sahabat dekat kakakmu. Kalau sampai ada sesuatu di antara kalian, mungkin itu bisa bikin masalah besar, Rosa. Nggak cuma buat kamu, tapi juga buat keluargamu sendiri.” Rosa terdiam, jantungnya berdetak lebih cepat. Kata-kata Ira menusuk tepat di titik yang selama ini ia coba abaikan. “Aku tahu kamu lagi rapuh dan butuh butuh sandaran. Tapi jangan sampai kamu salah langkah dan nyari pengganti Bima cuma karena luka yang dia tinggalkan.” Air mata Rosa menetes lagi. “Aku nggak tahu, Ira. Aku cuma ngerasa aman sama Kevin. Rasanya beda.” Ira menghela napas panjang, lalu meraih tangan Rosa, menggenggam erat. “Aku ngerti. Tapi rasa aman itu bisa menipu kalau datangnya di saat kita lagi paling rapuh. Aku nggak mau kamu makin sakit gara-gara salah menaruh hati.” Rosa menunduk, bibirnya bergetar. Di dalam hatinya, ada pertentangan hebat, antara rasa takut yang Ira tanamkan, dan rasa hangat yang Kevin berikan. Rosa dan Ira sudah siap berangkat kerja. Rosa mengenakan salah satu blus kerjanya yang tersimpan di kos Ira, sementara Ira sibuk mengunci pintu kamar. Mereka berjalan menuruni tangga dengan obrolan ringan, mencoba menormalkan pagi yang semalam penuh tangis. Rosa menatap pantulan dirinya di cermin kamar Ira. Blus kerja berwarna krem itu sedikit longgar, namun jauh lebih baik daripada kemeja Kevin yang tadi ia peluk erat sebelum melipatnya kembali dengan rapi ke dalam tas. Meski wajahnya masih sedikit sembab, Rosa memoleskan concealer dan lipstik tipis untuk menyembunyikan kehancurannya. "Sudah siap?" tanya Ira, kuncinya bergemerincing saat ia menutup pintu kamar. Rosa mengangguk pelan. "Ayo. Aku tidak ingin terlambat dan memberi alasan bagi dunia untuk bertanya-tanya." Mereka menuruni tangga, Ira terus mengoceh tentang pekerjaan, mencoba mengalihkan pikiran Rosa, namun langkah Rosa mendadak terhenti di anak tangga terakhir. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Di depan gerbang kos yang masih tertutup, sebuah mobil hitam mengilap terparkir. Itu bukan mobil Kevin. Itu mobil yang sangat Rosa kenali. Dari dalam mobil, ada sosok pria dengan rahang tegas dan tatapan protektif yang sangat ia kenali. "Kak Rey," bisik Rosa lirih. Suaranya hampir hilang terbawa angin pagi. Reynaldi melipat tangan di depan dada, matanya menyisir penampilan adiknya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Mama mengkhawatirkanmu dan memintaku mengecekmu ke kos Ira pagi-pagi sekali. Katanya, semalam beliau bermimpi buruk tentangmu." Mendengar alasan itu, Rosa dan Ira secara refleks mengembuskan napas panjang. "Oh, jadi begitu," Ira menimpali, suaranya sedikit lebih tinggi karena lega. "Mamamu memang punya ikatan batin yang kuat ya, Rosa? Kalau sudah mimpi buruk, pasti langsung gelisah." Rosa mengangguk, tangannya meremas tali tas dengan gelisah. Ia tahu intuisi ibunya selalu kuat. Mimpi buruk itu terasa masuk akal, sebab semalam sesuatu yang buruk hampir saja menimpanya. "Ayo, sudah siang. Aku antar kalian ke kantor. Sekalian aku mau pastikan adikku ini benar-benar sampai dengan selamat." Ira menoleh ke arah Rosa, menunggu kode. Rosa memberikan anggukan tipis. "Baik, Kak." Mereka masuk ke dalam mobil. Rosa sengaja memilih duduk di kursi belakang bersama Ira, menghindari kontak mata langsung dengan Reynaldi melalui spion tengah. Mesin mobil menderu halus, meninggalkan area kos yang tenang. Mobil itu sunyi sepanjang jalan. Rosa membuang muka ke jendela, memikirkan apa yang baru saja terjadi di apartemen Kevin. Sentuhan kemeja putih itu dan aroma parfum Kevin seolah belum benar-benar hilang dari dirinya, meski ia sudah sempat merapikan diri di kamar Ira. "Rosa," panggil Reynaldi tiba-tiba, memecah kesunyian. Rosa tersentak kecil. "Ya, Kak?" "Bima ada menghubungimu pagi ini?" tanya Reynaldi tanpa menoleh, matanya tetap pada jalanan. "Tadi malam dia meneleponku, suaranya terdengar panik karena kamu tidak bisa dihubungi." Rosa menelan ludah yang terasa pahit. Di sampingnya, Ira mencengkeram tangan Rosa dengan erat. "Ponselku mati semalam, Kak," jawab Rosa pelan, berbohong demi melindungi kewarasannya sendiri. "Aku hanya ingin istirahat total di tempat Ira." Reynaldi bergumam pendek sambil terus memerhatikan Rosa dari spion tengah. Instingnya tajam, dan Rosa menyadari itu. Ia hanya berharap sang kakak tidak sampai menebak bahwa ini ada hubungannya dengan Kevin. "Lain kali, beri kabar pada Mama. Kau tahu sendiri bagaimana beliau jika sudah merasa ada yang tidak beres." "Iya, Kak. Maafkan aku." Ira menyentuh punggung tangan Rosa, mencoba memberikan dukungan moral. Namun, suasana di dalam kabin mobil terasa semakin menyesakkan ketika Reynaldi mulai mengendus udara, sebuah gerakan kecil yang membuat jantung Rosa seolah berhenti berdetak. "Parfum siapa yang kau pakai, Rosa?" tanya Reynaldi tiba-tiba. "Aromanya, tidak seperti parfum bunga yang biasa kau pakai."Sejak subuh buta, Rey sudah bergerak dalam senyap. Beberapa setel pakaian terbaiknya dan berkas-berkas penting yang ia butuhkan sudah tertata rapi di dalam koper yang kini tersimpan di bagasi mobil. Keputusannya sudah bulat. Ia akan keluar dari rumah terkutuk ini dan menetap di apartemen pribadi yang selama ini ia beli diam-diam dari hasil kerja kerasnya sendiri, sebuah tempat yang tidak tersentuh oleh pengaruh kekuasaan ayahnya.Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Rey turun ke ruang makan. Ia sengaja bersikap biasa saja, bersiap menghadapi sarapan terakhir bersama kedua orang tuanya.Suasana di meja makan begitu sunyi, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Keheningan itu pecah saat Sena meletakkan cangkir kopinya, menatap sang putra mahkota dengan pandangan menuntut."Kamu sudah memikirkan ucapan Papa semalam, kan, Rey? Masalah jodoh, jangan naif. Dengan posisimu sekarang, perempuan mana pun pasti bisa kamu dapatkan dengan mudah!"Rima
"Kevin, kamu nggak bisa memutuskan semuanya secara sepihak! Mau ditaruh dimana muka Mama?!"Suara Wike meninggi, memecah keheningan ruang keluarga malam itu. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah Kevin. Di sebelahnya, Indra, sang suami, hanya bisa memijat pelipisnya perlahan, sementara Lita, si anak sulung, melipat tangan di dada sambil menyimak ketegangan yang terjadi.Kevin mengepalkan tangan di dalam saku celananya, berusaha menahan emosi. "Ma, dari awal aku sudah bilang kalau aku tidak setuju dengan perjodohan ini. Aku sudah mencoba jalani, mencoba untuk mencintai Olivia, tapi tetap nggak bisa. Tolong pahami itu.""Omong kosong dengan cinta!" Wike mengibaskan tangannya di udara, meremehkan. "Cinta itu bisa datang belakangan setelah menikah, Kevin! Yang penting itu bibit, bebet, bobotnya!""Sudahlah, Ma. Jangan memaksa Kevin. Pernikahan itu dia yang menjalani, biarkan dia memilih jodohnya sendiri." Indra akhirnya membuka suara, mencoba menjadi penengah sebelum tensi ruan
Aisha baru saja hendak membuka mulut untuk membalas ucapan Rima dengan sopan, namun suara dehaman berat dari ujung meja seketika membekukan kata-kata di tenggorokannya.Sena, yang sedari tadi hanya diam menyimak sambil membaca berkas di tabletnya, kini meletakkan gawai tersebut ke atas meja kaca. Pria paruh baya itu memperbaiki posisi duduknya, memancarkan aura otoriter yang kuat, aura yang sama persis dengan yang dimiliki Rey di kantor, namun jauh lebih matang dan berpengalaman.Sena menatap Aisha lurus-lurus. Tidak ada senyum kepalsuan seperti Rima, hanya ada tatapan sedatar dinding batu."Sudah berapa lama kamu bekerja di perusahaan saya, Aisha?" tanya Sena. Suaranya berat, tidak meninggi, namun entah mengapa terdengar begitu menekan."Sudah jalan tiga tahun, Bapak," jawab Aisha, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar."Tiga tahun." Sena mengangguk pelan sekali. "Berarti kamu sudah cukup tahu bagaimana cara perusahaan kami bergerak. Kamu tahu seberapa besar energi, koneksi,
Rey tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terkesan bersimpati namun sebenarnya penuh racun. "Aku yakin, mamamu tidak akan pernah menyukai perempuan seperti Rosa.""Aku tidak peduli, Rey!" potong Kevin cepat, suaranya meninggi, menolak fakta yang baru saja diucapkan Rey."Aku tidak butuh persetujuan siapa pun. Yang aku inginkan di hidupku hanya Rosa!"Rey tidak mendebat. Ia justru berjalan memutari Kevin, seolah sedang mengurung cowok itu dalam ruang intonasinya yang tenang."Oke, kamu tidak peduli pada mamamu. Tapi, bagaimana kalau tiba-tiba Oliv datang dan mengaku hamil anakmu? Persis seperti drama yang dilakukan Bima pada Rosa kemarin?"Rey menatap Kevin tepat di manik mata. Pertanyaan itu seperti hantaman telak. Dada Kevin naik turun, napasnya memburu menahan gejolak amarah sekaligus kepanikan yang mendadak menyergap."Nggak mungkin! Oliv tidak mungkin hamil anakku! Aku tidak pernah menyentuhnya! Kami tidak pernah melakukan hal sejauh itu!” sentak Kevin, suaranya agak bergetar me
"Selama ini Papa selalu mendidik Rey untuk menilai seseorang dari loyalitas dan integritasnya. Dan Aisha sudah membuktikan hal itu, bahkan di titik terendah keluarga kita." lanjut Rey, memanfaatkan keheningan yang sempat tercipta. Rima menatap suaminya, mencari celah di wajah Sena yang mulai melunak, meski rahang pria paruh baya itu masih mengeras. Trauma dikhianati oleh Bima memang membuat Sena menjadi pria yang penuh curiga.Sena mendengus, lalu berjalan kembali ke sofanya. Ia duduk dengan punggung tegap, menatap Rey seolah sedang menguji bawahannya di ruang rapat."Loyalitas sebagai karyawan itu berbeda dengan kesetiaan sebagai istri, Rey," ucap Sena, suaranya kini merendah namun tetap berat. "Di kantor, dia tunduk karena kamu atasannya. Tapi di dalam rumah tangga, ego kalian yang akan berbicara. Apa kamu yakin dia bisa mengimbangi posisimu? Kamu itu calon penerus tunggal perusahaan, relasi yang akan kamu hadapi nanti berbeda kelas dengan dunianya.""Aisha perempuan yang cerdas,
"Kevin! Kamu keterlaluan!" Wike berdiri dari kursinya hingga benda itu bergeser kasar dan menimbulkan suara berdecit yang nyaring. Wajahnya merah padam, menahan malu sekaligus amarah yang memuncak. "Jaga bicaramu! Ada Oliv di sini!"Sementara itu, Olivia hanya bisa terpaku. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh, membasahi pipinya yang dipoles riasan mahal. Ia menatap Kevin dengan pandangan tidak percaya."K-Kev... kamu bercanda, kan?" suara Olivia bergetar hebat. Ia mencoba meraih tangan Kevin di atas meja, namun Kevin dengan cepat menarik tangannya menjauh. "Kita sudah bicarakan ini, Kevin. Keluarga kita sudah setuju. Kenapa tiba-tiba kamu kayak gini?""Ini tidak tiba-tiba, Oliv," jawab Kevin, suaranya tetap rendah dan stabil, kontras dengan kepanikan dua wanita di hadapannya. "Sejak awal, aku sudah bilang sama Mama kalau aku menolak perjodohan ini. Dan aku juga pernah bilang sama kamu, hubungan kita dipaksakan.""Kevin! Diam!" bentak Wike lagi, dadanya kembang kempis.







