Share

Salah Paham

Author: YuRa
last update publish date: 2026-05-05 19:13:10

Udara di dalam mobil seolah membeku. Rosa teringat kemeja putih Kevin yang ia peluk tadi pagi, juga bagaimana ia menghabiskan malam di sofa pria itu. Aroma kayu cendana dan citrus khas Kevin, mungkin masih tertinggal samar di rambutnya.

"Oh, itu parfumku, Kak Rey!" Ira menyambar cepat, suaranya sedikit terlalu tinggi karena gugup. "Tadi pagi Rosa tidak bawa peralatan lengkap, jadi dia pakai punya aku. Kenapa? Terlalu menyengat ya?"

Reynaldi terdiam sejenak, menatap jalanan yang mulai padat.

"Tidak. Hanya terasa familiar."

Rosa memalingkan wajah ke jendela, membiarkan rambutnya jatuh menutupi sisa pucat di pipinya. Ia tidak bisa membayangkan reaksi Reynaldi jika tahu adiknya mengungsi ke apartemen sahabatnya sendiri setelah dikhianati oleh tunangan pilihan keluarga.

Kakaknya itu tidak akan sekadar marah, ia akan menciptakan badai yang sanggup melumatkan apa pun.

Begitu mobil berhenti di depan gedung kantor, Rosa buru-buru membuka pintu.

"Terima kasih, Kak," ucap Rosa singkat. Ia segera memutus kontak mata, tak sanggup berlama-lama menatap kakaknya.

Riuh suasana kantor di sekelilingnya mendadak terasa jauh. Rosa duduk mematung di depan monitor, namun pikirannya masih tertinggal di apartemen Kevin. Setiap kali ia mencoba mengetik, aroma sandalwood yang samar dari kemeja Kevin tadi pagi seolah kembali terhirup, membuat jemarinya kaku di atas keyboard.

“Fokus,” bisiknya tertahan.

Ia memaksakan diri menatap layar, namun kilas balik tatapan Kevin semalam terus mengaburkan angka-angka di depannya. Tatapan yang cukup dingin untuk mengintimidasi, namun cukup dalam untuk meruntuhkan pertahanannya.

Senyum tipis sempat muncul di bibir Rosa, namun ia segera menunduk saat seorang rekan kerja melintas dengan tumpukan dokumen. Ada rasa bersalah yang aneh, seolah ia sedang menyembunyikan rahasia besar di tengah keramaian kantor.

Saat jam istirahat tiba, keriuhan kantin justru membuatnya merasa semakin terasing. Rosa hanya menatap mangkuk baksonya yang mulai mendingin tanpa selera. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia akhirnya mengeluarkan ponsel dari saku.

Niat hati ingin mencari hiburan, namun layar itu justru menampilkan notifikasi pesan dari Bima.

[Aku jemput nanti malam ya, Sayang. Love you.]

Rosa merasa mual. Kata-kata manis itu sekarang terasa seperti racun yang membusuk. Dengan gerakan cepat, ia menutup jendela obrolan itu. Tanpa sadar, ibu jarinya bergerak mencari nama lain.

[Kevin]

Nama itu terpampang jelas. Singkat, padat, dan penuh wibawa, persis seperti pemiliknya. Rosa menatap tombol panggil dengan jantung yang berdegup kencang, seolah-olah hanya dengan menatap nama itu saja, Kevin bisa tahu apa yang sedang ia pikirkan.

“Apa aku harus menghubunginya?” bisiknya pada uap air mineral yang mengembun.

“Atau aku hanya akan terlihat seperti perempuan menyedihkan yang mencari perlindungan lagi?”

Ia teringat Kevin, yang wajahnya tenang, kata-katanya tegas, dan janjinya untuk tidak membiarkan Rosa sendirian.

Rosa menarik napas panjang.

“Kenapa harus dia yang muncul di pikiranku sekarang,” bisiknya lirih.

*

Langkah Rosa terhenti tepat saat ia dan Ira melintasi pintu kaca lobi.

Bima berdiri di sana. Kemejanya masih rapi, namun garis gelisah di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Pria itu tampak sedang mencari seseorang, hingga matanya terkunci tepat pada satu titik, Rosa.

Jantung Rosa berdegup keras.

“Ya Tuhan…” bisiknya.

"Rosa!" seru Bima, suaranya parau namun penuh tuntutan. Ia melangkah maju, tangannya mencengkeram besi gerbang. "Dari mana saja kamu semalam? Aku mencarimu ke mana-mana!"

Matanya menatap Rosa dengan intensitas yang mengerikan, campuran antara rasa bersalah yang dipaksakan dan amarah yang meledak.

"Rosa, aku bisa jelaskan kejadian semalam. Itu hanya salah paham. Perempuan itu, dia yang menjebakku! Jangan hancurkan hubungan kita hanya karena satu kesalahan kecil!"

Rosa merasa mual. Suara Bima yang memohon justru terdengar seperti kuku yang mencakar papan tulis di telinganya.

"Salah paham?" Rosa akhirnya bersuara, suaranya dingin dan stabil, sebuah kekuatan yang ia serap dari kata-kata Kevin tadi pagi.

"Tidur dengan perempuan lain di ranjangmu sendiri itu bukan salah paham, Bima. Itu pilihan."

"Rosa, kumohon…"

Bima mencoba mendekat, tapi Rosa mengangkat tangan, menahannya.

“Berhenti! Aku bukan perempuan bodoh yang bisa kamu permainkan dengan janji-janji kosong. Jika menghargai aku saja kamu tidak mampu, jangan harap kamu bisa mendapatkan aku kembali.”

Ia menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca tapi nadanya tetap tegas.

Bima berdiri terpaku, wajahnya hancur oleh penolakan yang tegas itu. Ia ingin bicara lagi, tapi suara Rosa lebih cepat memotong.

“Pergi, Bima. Sekarang juga. Jangan pernah muncul di depanku lagi.”

Bima menunduk kalah. Dengan wajah kusut, ia berbalik dan pergi.

Rosa menghela napas panjang. Tubuhnya sedikit gemetar, tapi di dalam hatinya ada rasa lega dan ia merasa kuat. Ira segera menghampiri, memeluknya erat.

“Astaga, Rosa, itu tadi luar biasa. Kamu akhirnya bisa berdiri melawan dia.”

Rosa tersenyum tipis, meski matanya masih berair.

“Aku capek, Ra. Aku nggak mau lagi jadi perempuan yang diinjak-injak harga dirinya.”

*

Rosa memutar knop pintu dengan gerakan seminimal mungkin, berharap derit kayu tidak mengkhianati kehadirannya. Namun, aroma tumisan bawang dan suara TV yang pelan menyambutnya lebih dulu. Di sofa, Rima, mamanya Rosa, duduk dengan keanggunan yang entah kenapa terasa mengintimidasi sore itu.

"Pulang sama siapa, Sa? Diantar Bima?" Mata Rima beralih dari layar TV, menatap Rosa dengan binar selidik yang tajam.

Rosa cepat-cepat menggeleng, jemarinya meremas tali tas punggungnya.

"Naik taksi, Ma."

Alis Rima terangkat satu senti. Sebuah jeda yang terasa seperti selamanya.

"Oh..." jawabnya pendek. "Terus, kenapa tadi malam mendadak menginap di kos Ira? Tumben sekali tidak memberi kabar lebih awal."

Rosa menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, seolah sisa-sisa alkohol dari apartemen Kevin semalam masih tertinggal di sana.

"Banyak kerjaan, Ma. Aku lelah sekali. Mau pulang pun jalanan macet parah, jadi aku putuskan menginap di tempat Ira saja biar praktis," ucap Rosa, berusaha mengatur nada suaranya agar tidak bergetar.

Rima tidak langsung menjawab. Ia menatap Rosa cukup lama, seolah sedang membedah lapisan kebohongan yang membungkus wajah putrinya. Rosa segera menunduk, berpura-pura sibuk membenarkan letak sepatunya, takut jika mata mereka bertemu, kebenaran tentang Kevin akan tumpah begitu saja.

"Ya sudah. Mandi sana," ucap Rima akhirnya, nadanya melunak namun tetap menyisakan tanya.

"Kamu terlihat kacau sekali hari ini."

Rosa memaksakan senyum tipis yang terasa kaku.

"Iya, Ma."

Rosa menyeret langkahnya menuju kamar. Setiap jengkal jarak yang ia lalui terasa mencekik. Ada keinginan kuat untuk berbalik, menjatuhkan diri di pangkuan Mamanya, dan menumpahkan semua kehancuran yang ia simpan. Namun, bayangan Kevin dan kilasan kejadian di apartemen Bima mendadak menyumbat kerongkongannya.

Begitu pintu kamar terkunci, pertahanannya habis. Ia bersandar di balik daun pintu, memejamkan mata rapat-rapat sementara napasnya mulai tersengal menahan isak yang mendesak keluar.

"Maaf, Ma, aku belum bisa jujur."

Rosa baru saja hendak melepas pakaiannya saat sebuah gedoran keras menghantam pintu kamar mandi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nina Tantina
Kenapa Rosa ga cerita sama keluarga klo tunangan kamu selingkuh , mau sampai kapan disembunyikan ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Lamaran

    Ancaman itu menguap begitu saja bersamaan dengan berbaliknya tubuh Olivia, menjauh dari Kevin. Kevin sama sekali tidak terusik. Matanya tetap terkunci pada satu titik di atas sana, pada sosok Rosa yang tengah berpose anggun di bawah sorotan lampu kilat kamera.Sesi foto bersama itu akhirnya usai. Satu per satu orang bergeser turun dari panggung, dan Rosa segera melangkah mendekati tempat Kevin menantinya. Senyum tipis yang tadi ia pamerkan di hadapan kamera perlahan memudar, menyisakan kekhawatiran yang kembali mencuat di manik matanya."Mereka marah besar, ya?" bisik Rosa hati-hati, begitu ia berdiri tepat di hadapan Kevin. Jemarinya meremas pelan ujung gaunnya, menyembunyikan rasa gugup yang mendera.Kevin menggeleng pelan. Tanpa ragu, ia meraih jemari Rosa yang gelisah itu, menggenggamnya erat untuk memberikan kehangatan sekaligus rasa aman."Biarkan saja," jawab Kevin tenang, suaranya terdengar begitu mantap. "Yang penting sekarang kamu ada di sini, bersamaku. Tidak ada yang perlu

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Calon Istri

    Tak terima, Olivia menoleh dengan dagu terangkat, melirik Rosa dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan meremehkan. "Apa sih menariknya dari perempuan ini?"Alih-alih tersinggung, Kevin justru merapatkan dirimu pada Rosa. Ia menggenggam erat jemari wanita itu di hadapan Olivia. "Apa yang ada padanya, semuanya menarik bagiku," tandasnya telak, membuat pipi Rosa merona merah, tersipu malu di tengah ketegangan yang tercipta.Sebelum Olivia sempat membalas, suara lain menyela dari arah belakang."Oliv, kamu ke sini juga? Datang bareng Kevin, ya?" sapa Wike antusias. Mamanya Kevin itu baru saja tiba bersama Indra, sang suami. Wike tampak begitu sumringah melihat kehadiran Olivia, sampai-sampai ia tidak menyadari atau sengaja mengabaikan keberadaan Rosa yang berdiri tepat di sebelah anaknya.Olivia langsung mengubah ekspresinya, memasang senyum semanis mungkin. "Iya, Tante," jawabnya ramah.Melihat gelagat ibunya yang kembali mendewakan Olivia, Kevin buru-buru menyela untuk menghent

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Lampu Hijau

    "Jadi... Papa punya simpanan?" Suara Wike mendadak berubah. Kalimat itu meluncur dengan nada yang agak bergetar, menyiratkan kepanikan berlapis amarah.Indra mengerjap pelan, sedikit terkejut dengan perubahan reaksi istrinya. "Punya!" jawabnya santai.Seketika itu juga, pertahanan Wike runtuh. Genangan air mata langsung mendesak di pelupuk matanya yang membelalak. "Papa jahat! Tega-teganya Papa berkhianat di belakang Mama!" serunya dengan suara bergetar menahan tangis.Kevin yang sedari tadi bersiap menjadi penengah kontan melongo. Otaknya mendadak macet, gagal mencerna ke arah mana arah pembicaraan kedua orang tuanya kini bergeser."Hah? Siapa yang berkhianat?" balas Indra bingung."Tadi Papa sendiri kan yang bilang kalau Papa punya simpanan?!" Wike menuding suaminya dengan jari yang gemetar.Indra tergelak pelan, baru sadar dengan kesalahpahaman konyol yang baru saja terjadi. "Ya ampun, Ma... Kan yang Papa maksud itu memang punya simpanan! Simpanan uang di bank, surat-surat berh

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Rencana Lamaran

    Kevin menunduk sejenak, meresapi beban dari restu yang baru saja ia perjuangkan setengah mati, sekaligus dinding tebal yang baru saja kembali ia hadapi."Saya rundingkan dulu dengan orang tua saya, Om. Nanti saya kabari," jawab Kevin lirih, namun tegas, menjaga wibawanya di hadapan ayah wanita yang sangat ia cintai."Pa, Mama nggak setuju!" teriak Rima, dengan nada tinggi yang memekakkan telinga.Sena menghela napas berat, menoleh pada istrinya dengan sorot mata yang menyiratkan peringatan. "Ma, yang menjalani mereka berdua. Kita nggak usah ikut campur terlalu jauh.""Tapi, Pa...." Rima melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah Kevin seolah menguliti pemuda itu hidup-hidup."Nggak ada tapi-tapian. Biarkan mereka dengan keputusannya," potong Sena final, tidak memberi ruang bagi perdebatan lanjutan.Sena kemudian mengalihkan pandangannya, menatap Kevin yang berdiri dengan punggung tegap meski sorot matanya menyiratkan lelah."Nanti kalau sudah ada keputusan, hubungi Rosa langsu

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Berniat Baik

    Sore yang cerah sama sekali tidak mencerminkan atmosfer di dalam kediaman keluarga Rosa. Sebaliknya, badai besar seolah baru saja menghantam rumah mewah itu. Suara bantingan pintu dan pecahan barang terdengar bersahut-sahutan dari lantai atas.Rima masih tidak bisa menerima kenyataan. Kemarahannya yang sempat tertahan di restoran tadi, kini meledak sepenuhnya begitu mereka menginjakkan kaki di rumah."Kamu benar-benar anak tidak tahu diuntung, Rosa!" pekik Rima dengan napas memburu, berdiri di ambang pintu kamar Rosa yang terbuka lebar. Matanya menatap tajam ke arah koper besar yang tergelosor di atas tempat tidur.Rosa tidak menjawab. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap berusaha tegang, ia terus memasukkan beberapa pakaian dan barang-barang pentingnya ke dalam koper. Diamnya Rosa justru membuat Rima makin naik pitam."Mau jadi apa kamu di luar sana? Hah?! Kamu pikir hidup dengan modal 'cinta' dari laki-laki miskin itu bisa bikin kamu kenyang?!" cecar Rima lagi, suaranya

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Mencintai Orang Lain

    Langkah Rosa terhenti tepat di luar lobi restoran. Angin sore berembus, mengiringi kemunculan seorang wanita berpenampilan modis yang tiba-tiba memotong jalannya."Kamu Rosa, kan?"Rosa mundur selangkah, menjaga jarak aman. "Iya, kamu siapa?""Aku Olivia, kekasihnya Kevin." Wanita itu bersedekap, menatap Rosa dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Aku peringatkan kamu, jangan pernah mendekati Kevin. Dia milikku."Rosa menatap wanita di hadapannya tanpa kedipan. Riak cemas di hatinya langsung sirna, digantikan oleh rasa percaya diri. "Bukan aku yang mendekatinya, tapi ia yang selalu mendekatiku!" ujar Rosa, suaranya terdengar renyah namun menohok."Bohong! Pasti kamu yang menggodanya!" Olivia mulai emosi, suaranya meninggi hingga memancing perhatian satu-dua orang di parkiran."Kalau dia benar-benar mencintaimu, sekuat apa pun aku menggodanya, ia tidak bakal tertarik," balas Rosa telak, membuat Olivia bungkam sesaat karena syok.Di saat Olivia sudah meng

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Aku Hancur

    Kevin menoleh cepat. Sorot matanya tajam, berusaha menekan keterkejutan yang membakar suasana.“Apa maksudmu, Rosa?” suaranya terdengar seperti geraman rendah yang berbahaya.Rosa tidak berpaling. Di balik matanya yang basah, sisa kehancuran itu kini berganti menjadi tekad nekat. Ia tidak ingin lag

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Belajar Melupakan

    “Aku sedang belajar,” bisik Rosa sambil menunduk, membiarkan rambut menutupi wajahnya yang kuyu. “Belajar melupakan. Tapi ternyata, aku murid yang bodoh. Aku gagal lagi.”Kepalanya terasa seberat batu, perlahan terkulai menuju meja bar yang dingin. Namun, sebelum keningnya menyentuh permukaan kayu,

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Pengkhianatan

    Rosa mematung di ambang pintu. Bau parfum asing di kamar itu mencekik paru-parunya. Di tangannya, ponsel masih menyala, merekam pengkhianatan yang terpampang nyata.Bima terlonjak. Wajah tampannya berubah pucat, lalu panik. Di sampingnya, wanita itu menarik selimut dengan kalap.“R-Rosa?!” suara Bi

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Keberanian Rosa

    Rosa kembali menatap Bima, senyumnya semakin lebar. "Ayo, Sayang. Kita sudah terlambat," ajak Rosa dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin, seolah insiden tadi hanyalah angin lalu."Eh, i... iya. Ayo," jawab Bima gagap. Ia sempat melirik Sarah sekilas, sebuah tatapan peringatan yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status