Share

Permintaan Gila Calon Pengantin
Permintaan Gila Calon Pengantin
Author: YuRa

Pengkhianatan

Author: YuRa
last update publish date: 2026-04-25 20:17:39

Rosa mematung di ambang pintu. Bau parfum asing di kamar itu mencekik paru-parunya. Di tangannya, ponsel masih menyala, merekam pengkhianatan yang terpampang nyata.

Bima terlonjak. Wajah tampannya berubah pucat, lalu panik. Di sampingnya, wanita itu menarik selimut dengan kalap.

“R-Rosa?!” suara Bima tercekat.

“Jangan sebut namaku!” potong Rosa.

Tubuhnya bergetar, namun genggamannya pada ponsel tetap kokoh.

“Di rumah ini, Bima? Di atas lantai yang kita pilih bersama?”

Bima bangkit, mencoba mendekat. “Aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti….”

“Jelaskan apa?” Rosa terkekeh pahit, suaranya bergetar karena muak. Ia mundur menjauh. “Kamu pikir aku sebodoh itu? Mau pakai alasan apa lagi kali ini? Aku punya mata, Bima. Dan apa yang kulihat barusan sudah lebih dari cukup.”

Melihat pembelaannya mental, raut Bima mendadak berubah. Paniknya menguap, digantikan tatapan dingin yang sinis. Ia menghela napas kasar.

“Sudahlah, jangan drama,” desis Bima.

Ia menatap Rosa dengan rendah dari ujung kaki.

“Aku bertahan hanya demi muka di depan keluarga. Kau itu membosankan, sok suci, dan tidak tahu cara menyenangkan tunangan sendiri.”

Rosa tersentak. Kata-kata itu lebih tajam dari belati. Namun, ia tidak hancur. Ia justru mengangkat ponselnya lebih tinggi.

“Aku tidak sok suci, Bima. Aku hanya punya harga diri yang tidak bisa kau beli,” ujar Rosa dingin.

“Jika perempuan di balik selimut itu standar bahagiamu, silakan ambil. Kalian berdua memang terlihat cocok dan sama-sama hina.”

“Kurang ajar!” teriak wanita di ranjang itu.

Bima merangsek maju, urat lehernya menonjol.

“Matikan ponsel itu! Serahkan padaku!”

Rosa lebih gesit. Ia mundur dengan langkah mantap, matanya tak lagi basah, melainkan membaja.

“Jangan sentuh aku. Mulai detik ini, tidak ada lagi kita. Anggap saja rekaman ini hadiah perpisahan dariku untuk keluargamu.”

Rosa berbalik. Air matanya jatuh menetes ke lantai, tapi punggungnya tetap tegak. Ia melangkah keluar dari kamar itu, meninggalkan aroma busuk pengkhianatan di belakangnya, menuju udara malam yang jauh lebih jujur.

Langkah kaki Rosa tidak lagi berpijak, ia terhuyung seolah gravitasi baru saja mengkhianatinya.

Di dalam sana, di atas meja makan yang tertata rapi, kantong belanjaan berisi bahan makan malam yang ia siapkan dengan cinta kini tak lebih dari tumpukan sampah.

Pintu apartemen itu tertutup dengan dentuman berat, namun suara di baliknya jauh lebih bising, berputar-putar seperti piringan hitam yang rusak di kepalanya.

Kata-kata Bima bukan sekadar ucapan, itu adalah belati tumpul yang dipaksa masuk ke dadanya. Dingin dan menyakitkan.

Di lorong apartemen yang dingin, Rosa membeku. Layar ponsel di tangannya masih merekam, menjadi bukti digital atas pengkhianatan yang baru saja ia saksikan. Air matanya jatuh, panas dan memburamkan layar yang retak.

"Kenapa harus aku?" bisiknya dengan suara pecah.

Dada Rosa sesak. Dalam sekejap, bayangan gaun pengantin dan masa depan yang mereka susun hangus menjadi abu. Ia menyeret langkah keluar gedung, sepatu hak tingginya kini terasa seperti pasung yang menyiksa.

Malam Jakarta menyambutnya tanpa belas kasihan. Di bawah pendar neon, Rosa berdiri terpaku. Rencana kejutan makan malam yang ia siapkan justru berbalik menghantamnya hingga ia lupa cara bernapas.

Ia berhenti di depan kaca toko yang gelap. Di balik pantulan riasannya yang luntur, suara Bima kembali bergema, menghakiminya seperti kaset rusak.

Kata-kata itu membuat Rosa merasa sekecil debu. Rasa tidak berharga merayap, mencekiknya lebih kuat daripada polusi kota. Ia mulai melangkah lagi, bukan berjalan, melainkan melarikan diri. Ia tidak peduli ke mana aspal membawanya, asalkan cukup jauh untuk membuatnya lupa bahwa beberapa jam lalu, ia masih memiliki masa depan.

Rosa terpaku di depan etalase gaun pengantin putih gading yang berkilau. Di balik kaca, pantulan dirinya tampak mengenaskan, riasan luntur dan pakaian kerja yang kusut. Ia terlihat seperti porselen retak yang dipaksakan bersanding dengan keindahan gaun itu.

"Apa aku terlalu polos? Terlalu bodoh?" batinnya getir. "Apa aku seburuk itu sampai dia mencari neraka di pelukan wanita lain?"

Rasa sakitnya kini berubah menjadi amarah yang dingin. Ia berbalik, meninggalkan cahaya etalase menuju gang sempit yang remang. Suara bass dari bar dan aroma pengap mulai mengepungnya. Bayangan wajah ibunya yang penuh doa sempat melintas, namun Rosa segera menepisnya.

"Apa gunanya menjadi baik kalau akhirnya dihancurkan begini?"

Dorongan liar muncul dari sudut hatinya. Malam ini, ia ingin berhenti menjadi Rosa yang 'sok suci'. Ia ingin rasa sakit ini bungkam.

Rosa mendorong pintu bar yang berat. Lampu warna-warni dan uap alkohol langsung menelan tubuhnya. Ia duduk di kursi bar yang dingin, jemarinya mengetuk meja yang lengket.

"Satu, apa saja yang paling kuat," pesannya dengan suara serak yang tenggelam di balik dentuman musik.

Gelas pertama habis dalam satu tarikan napas. Cairan itu membakar tenggorokan, namun kalah panas dibanding bara di dadanya.

“Lagi,” tuntutnya.

Gelas berganti hingga hitungan mengabur. Tawa sumbang Rosa pecah, terdengar lebih seperti isak tangis yang gagal disembunyikan. Saat ia bergerak lunglai, ponselnya merosot ke lantai. Layarnya masih menyala, menampilkan durasi rekaman pengkhianatan yang seolah mengejeknya.

“Brengsek!” rintihnya. Tubuhnya oleng, hampir jatuh dari kursi.

Tiba-tiba, seorang pria di sebelahnya mendekat dengan aroma alkohol dan senyum muak.

“Sendirian, Cantik? Aku bisa jadi obatmu malam ini.”

Tangan kasar pria itu terulur ke bahu Rosa. Dengan sisa tenaga, Rosa menepisnya kasar.

“Jangan sentuh aku!” teriaknya, meski suaranya goyah dan rapuh.

Pria itu tidak mundur, malah tertawa rendah sambil memangkas jarak.

“Ah, jangan jual mahal. Wanita sepertimu tidak ke sini untuk sendirian, kan?”

Sebelum jemari itu menyentuh kulit Rosa, sebuah tangan muncul dari kegelapan. Cengkeramannya pada pergelangan tangan si pria begitu kuat hingga sendinya bergemeretak.

“Dia bilang jangan sentuh.”

Suara itu dingin, tajam, dan seketika membekukan suasana. Si pria tertegun, nyalinya menciut saat menatap sosok yang berdiri menjulang di samping Rosa.

Kevin. Rosa mengenal Kevin sebagai teman baiknya Rey, kakak Rosa.

Sorot mata Kevin setajam belati, dingin dan penuh wibawa. Tanpa tenaga berarti, ia menghentakkan tangan pria itu hingga terhuyung mundur.

“Pergi,” desis Kevin rendah. “Sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran.”

Pria itu sempat hendak melawan, namun melihat rahang Kevin yang mengeras, ia segera mundur dan menghilang ke dalam remang-remang bar.

Rosa menoleh dengan gerakan lambat, kepalanya terasa seberat timah. Di tengah pandangan yang kabur, siluet di sampingnya terasa seperti jangkar di tengah badai.

“K-Kevin?” suaranya pecah, membawa campuran rasa malu dan lega yang menyesakkan.

Kevin tidak langsung menjawab. Ia menatap Rosa dengan pandangan yang sulit diartikan, ada amarah tertahan dan rasa perih melihat wanita seteguh Rosa tampak seperti burung bersayap patah.

Di bawah pendar lampu neon, Kevin mengepalkan tangan, menahan diri untuk tidak langsung menyentuh Rosa yang terlihat sangat rapuh.

“Apa yang kamu lakukan di sini, Rosa?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Mengundurkan Diri

    Sejak subuh buta, Rey sudah bergerak dalam senyap. Beberapa setel pakaian terbaiknya dan berkas-berkas penting yang ia butuhkan sudah tertata rapi di dalam koper yang kini tersimpan di bagasi mobil. Keputusannya sudah bulat. Ia akan keluar dari rumah terkutuk ini dan menetap di apartemen pribadi yang selama ini ia beli diam-diam dari hasil kerja kerasnya sendiri, sebuah tempat yang tidak tersentuh oleh pengaruh kekuasaan ayahnya.Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Rey turun ke ruang makan. Ia sengaja bersikap biasa saja, bersiap menghadapi sarapan terakhir bersama kedua orang tuanya.Suasana di meja makan begitu sunyi, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Keheningan itu pecah saat Sena meletakkan cangkir kopinya, menatap sang putra mahkota dengan pandangan menuntut."Kamu sudah memikirkan ucapan Papa semalam, kan, Rey? Masalah jodoh, jangan naif. Dengan posisimu sekarang, perempuan mana pun pasti bisa kamu dapatkan dengan mudah!"Rima

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Bibit, Bebet, Bobot

    "Kevin, kamu nggak bisa memutuskan semuanya secara sepihak! Mau ditaruh dimana muka Mama?!"Suara Wike meninggi, memecah keheningan ruang keluarga malam itu. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah Kevin. Di sebelahnya, Indra, sang suami, hanya bisa memijat pelipisnya perlahan, sementara Lita, si anak sulung, melipat tangan di dada sambil menyimak ketegangan yang terjadi.Kevin mengepalkan tangan di dalam saku celananya, berusaha menahan emosi. "Ma, dari awal aku sudah bilang kalau aku tidak setuju dengan perjodohan ini. Aku sudah mencoba jalani, mencoba untuk mencintai Olivia, tapi tetap nggak bisa. Tolong pahami itu.""Omong kosong dengan cinta!" Wike mengibaskan tangannya di udara, meremehkan. "Cinta itu bisa datang belakangan setelah menikah, Kevin! Yang penting itu bibit, bebet, bobotnya!""Sudahlah, Ma. Jangan memaksa Kevin. Pernikahan itu dia yang menjalani, biarkan dia memilih jodohnya sendiri." Indra akhirnya membuka suara, mencoba menjadi penengah sebelum tensi ruan

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Aliansi Strategis

    Aisha baru saja hendak membuka mulut untuk membalas ucapan Rima dengan sopan, namun suara dehaman berat dari ujung meja seketika membekukan kata-kata di tenggorokannya.Sena, yang sedari tadi hanya diam menyimak sambil membaca berkas di tabletnya, kini meletakkan gawai tersebut ke atas meja kaca. Pria paruh baya itu memperbaiki posisi duduknya, memancarkan aura otoriter yang kuat, aura yang sama persis dengan yang dimiliki Rey di kantor, namun jauh lebih matang dan berpengalaman.Sena menatap Aisha lurus-lurus. Tidak ada senyum kepalsuan seperti Rima, hanya ada tatapan sedatar dinding batu."Sudah berapa lama kamu bekerja di perusahaan saya, Aisha?" tanya Sena. Suaranya berat, tidak meninggi, namun entah mengapa terdengar begitu menekan."Sudah jalan tiga tahun, Bapak," jawab Aisha, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar."Tiga tahun." Sena mengangguk pelan sekali. "Berarti kamu sudah cukup tahu bagaimana cara perusahaan kami bergerak. Kamu tahu seberapa besar energi, koneksi,

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Perempuan Yang Selevel

    Rey tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terkesan bersimpati namun sebenarnya penuh racun. "Aku yakin, mamamu tidak akan pernah menyukai perempuan seperti Rosa.""Aku tidak peduli, Rey!" potong Kevin cepat, suaranya meninggi, menolak fakta yang baru saja diucapkan Rey."Aku tidak butuh persetujuan siapa pun. Yang aku inginkan di hidupku hanya Rosa!"Rey tidak mendebat. Ia justru berjalan memutari Kevin, seolah sedang mengurung cowok itu dalam ruang intonasinya yang tenang."Oke, kamu tidak peduli pada mamamu. Tapi, bagaimana kalau tiba-tiba Oliv datang dan mengaku hamil anakmu? Persis seperti drama yang dilakukan Bima pada Rosa kemarin?"Rey menatap Kevin tepat di manik mata. Pertanyaan itu seperti hantaman telak. Dada Kevin naik turun, napasnya memburu menahan gejolak amarah sekaligus kepanikan yang mendadak menyergap."Nggak mungkin! Oliv tidak mungkin hamil anakku! Aku tidak pernah menyentuhnya! Kami tidak pernah melakukan hal sejauh itu!” sentak Kevin, suaranya agak bergetar me

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Menguji Kesabaran

    "Selama ini Papa selalu mendidik Rey untuk menilai seseorang dari loyalitas dan integritasnya. Dan Aisha sudah membuktikan hal itu, bahkan di titik terendah keluarga kita." lanjut Rey, memanfaatkan keheningan yang sempat tercipta. Rima menatap suaminya, mencari celah di wajah Sena yang mulai melunak, meski rahang pria paruh baya itu masih mengeras. Trauma dikhianati oleh Bima memang membuat Sena menjadi pria yang penuh curiga.Sena mendengus, lalu berjalan kembali ke sofanya. Ia duduk dengan punggung tegap, menatap Rey seolah sedang menguji bawahannya di ruang rapat."Loyalitas sebagai karyawan itu berbeda dengan kesetiaan sebagai istri, Rey," ucap Sena, suaranya kini merendah namun tetap berat. "Di kantor, dia tunduk karena kamu atasannya. Tapi di dalam rumah tangga, ego kalian yang akan berbicara. Apa kamu yakin dia bisa mengimbangi posisimu? Kamu itu calon penerus tunggal perusahaan, relasi yang akan kamu hadapi nanti berbeda kelas dengan dunianya.""Aisha perempuan yang cerdas,

  • Permintaan Gila Calon Pengantin    Meminta Restu

    "Kevin! Kamu keterlaluan!" Wike berdiri dari kursinya hingga benda itu bergeser kasar dan menimbulkan suara berdecit yang nyaring. Wajahnya merah padam, menahan malu sekaligus amarah yang memuncak. "Jaga bicaramu! Ada Oliv di sini!"Sementara itu, Olivia hanya bisa terpaku. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh, membasahi pipinya yang dipoles riasan mahal. Ia menatap Kevin dengan pandangan tidak percaya."K-Kev... kamu bercanda, kan?" suara Olivia bergetar hebat. Ia mencoba meraih tangan Kevin di atas meja, namun Kevin dengan cepat menarik tangannya menjauh. "Kita sudah bicarakan ini, Kevin. Keluarga kita sudah setuju. Kenapa tiba-tiba kamu kayak gini?""Ini tidak tiba-tiba, Oliv," jawab Kevin, suaranya tetap rendah dan stabil, kontras dengan kepanikan dua wanita di hadapannya. "Sejak awal, aku sudah bilang sama Mama kalau aku menolak perjodohan ini. Dan aku juga pernah bilang sama kamu, hubungan kita dipaksakan.""Kevin! Diam!" bentak Wike lagi, dadanya kembang kempis.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status