Heri berdecak kesal, rahangnya mengeras mendengar ucapan frontal Rahma yang hampir saja mengacaukan posisinya di depan Sintya. Dengan gerakan taktis, ia menepis pelan tangan Rahma dari pundaknya dan menatap mantan teman sekolahnya itu dengan sorot mata memperingatkan."Semua orang punya masa lalu, Rahma. Yang lalu biarlah berlalu, nggak usah diungkit lagi di sini," potong Heri dengan cepat dan tegas.Rahma pun terkekeh geli melihat kepanikan terselubung di wajah tegap Heri. Lalu mundur satu langkah sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah."Iya, iya, maaf. Galak banget sih sekarang, Her. Ya udah, aku pamit pergi dulu ya. Selamat menikmati makan siangnya, Sintya. Kamu beruntung dapetin Heri," ucap Rahma penuh sindiran sebelum akhirnya membalikkan badan dan berjalan menjauh membelah barisan meja restoran.Suasana di meja makan itu mendadak hening. Tensi yang ditinggalkan Rahma masih terasa pekat di udara. Heri melirik Sintya yang kini sedang menggeleng-gelengkan kepala
Mehr lesen