Mendengar pengakuan binal dari bibir Sintya, Heri tidak lagi mampu menahan geraman yang tertahan di tenggorokannya.Gairah liarnya tersulut hingga ke titik didih yang paling ekstrem.Di bawah tatapan elang Heri yang menggelap pekat, Sintya kembali merunduk, melahap batang keras nan besar itu ke dalam mulut hangatnya dengan kepala yang bergerak naik-turun secara konstan.Sintya memainkan lidahnya dengan sangat lihai, meniru ritme penetrasi yang biasa Heri lakukan padanya.Selain melumatnya dengan hisapan-hisapan yang vakum dan ketat, dia juga menjilatnya dari pangkal hingga ke ujung sensitif yang berurat tegap tersebut.Sensasi hangat, basah, dan jepitan dari rongga mulut Sintya benar-benar membuat pertahanan mental Heri runtuh berkeping-keping."Ahh... bajingan, Sintya! Nghh... pelan-pelan, sayang!"Heri mendesah berat dengan suara bariton yang pecah, seraya tangannya bergerak menjambak rambut panjang Sintya dengan remasan yang cukup kuat namun sarat akan gairah, menuntun pergerakan k
Mehr lesen