تسجيل الدخولHeri menatap lembaran bukti transfer bank di mejanya dengan mata menyipit tajam. Pria tegap itu berdiri dari tepi meja, meraih cangkir kopinya, lalu melangkah santai menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan lanskap kota."Jangan pakai cara kasar, Man," ujar Heri dingin tanpa berbalik. "Konfrontasi otot cuma buat kelas preman jalanan. Pria seperti Robert harus dihancurkan lewat sistem sampai dia tidak punya ruang buat bernapas lagi."Maman menyilangkan kedua tangannya di atas dada, menyunggingkan senyum miring yang kaku. "Lalu apa instruksimu, Her?"Heri memutar tubuhnya, menatap Maman dan Karin yang berdiri di dalam ruangan."Karin, panggil tim pengacara utama kita sekarang. Serahkan seluruh rekaman percakapan, jejak digital, dan bukti transfer dari agensi cyber itu langsung ke Krimsus Polda Jawa Barat. Minta mereka terbitkan laporan atas tuduhan kejahatan UU ITE, fitnah terorganisir, dan sabotase bisnis.""Siap, Pak Heri," jawab Karin cepat sembari mencatat instruksi tersebut."
Pagi harinya, jam delapan lewat tiga puluh menit, area ruang utama restoran pusat sudah dipenuhi puluhan wartawan dari berbagai media massa, kamera stasiun TV lokal, serta lembaga pengawas pangan independen. Tensi ruangan terasa riuh oleh bisik-bisik spekulasi.Tepat jam sembilan, Heri keluar dari ruang privatnya. Ia mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi yang amat rapi. Di sampingnya, Sintya tampil sangat anggun dengan blus formal warna krem.Sikap tenang, dagu terangkat, serta pendar percaya diri yang dipancarkan pasangan suami-istri itu seketika membungkam riuh suara wartawan. Pendar lampu kilat kamera langsung menyambar-nyambar tanpa henti.Heri berdiri di balik podium utama, sementara Sintya berdiri tegap tepat di sisi kanannya."Selamat pagi rekan-rekan media dan seluruh masyarakat yang menyaksikan lewat siaran langsung pagi ini," buka Heri dengan suara bariton yang dalam, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun."Hari ini saya tidak berdiri di sini untuk membela diri dengan kat
Pagi itu, Heri sedang duduk santai di meja makan rumahnya, menikmati segelas kopi hitam hangat sembari memperhatikan Sintya yang mengoleskan mentega pada selembar roti.Suasana hangat di meja makan itu mendadak buyar ketika ponsel pintar Heri di atas meja berdering tanpa henti.Layar memperlihatkan nama Karin, disusul belasan panggilan tidak tertangkap dari manajer operasional restoran utama.Heri menggeser tombol hijau di layarnya dan menempelkan ponsel ke telinga."Mas Heri! Gawat, Mas!" suara Karin terdengar panik dan terengah-engah dari seberang telepon.“Media sosial mendadak geger dari jam lima subuh tadi. Ada video potongan gambar yang viral di TikTok sama Instagram. Mereka mengklaim ada bangkai tikus sama daging busuk di dapur restoran utama kita!"Heri tidak langsung merespons. Wajahnya tetap tenang, hanya alisnya yang menyatu tipis. "Video potongan? Dapur yang mana?""Dapur pusat, Mas!" potong Karin cepat."Ada tiga influencer kuliner lokal yang langsung bikin narasi provoka
Maman tidak membuang waktu satu detik pun. Begitu Karin melangkah masuk dan pintu rumah itu terkunci rapat dari dalam, Maman langsung berbalik.Tangan besarnya menyambar pinggang ramping Karin, memutar tubuh wanita itu, dan memojokkannya ke pintu kayu.Maman menyambar bibir Karin dalam ciuman yang amat kasar, panas, dan menuntut.Maman melahap mulut wanita itu secara brutal, melampiaskan seluruh gairah yang sudah ditahannya sejak di luar kota. Karin mendesah keras di dalam ciuman tersebut.Bukannya tersiksa, birahi Karin justru makin meledak diperlakukan kasar secara jantan seperti ini. Jemari lentik Karin langsung membongkar kancing kemeja Maman secara agresif, menarik kain itu hingga terlepas dari bahu tegap Maman yang penuh otot."Mas... pelan-pelan..." bisik Karin dengan napas tersengal saat Maman memindahkan ciumannya ke leher halus Karin."Kamu dari kemarin memancing aku, Karin. Sekarang jangan minta aku pelan," geram Maman dengan suara parau yang sangat dalam.Maman menyambar t
Bisikan nakal Karin menembus telinga Maman bagaikan sulut api pada mesiu kering. Benteng pertahanan pria berotot itu hancur seketika.Maman yang sudah hilang kesabaran tak lagi peduli pada rasa canggung maupun etika. Dalam kegelapan pekat ruang arsip yang sempit itu, insting jantan liarnya meledak.Tangan kekar Maman langsung menyambar pinggang ramping Karin dengan cengkeraman keras dan protektif. Dengan satu gerakan cepat, Maman mendorong tubuh molek wanita itu hingga menempel rata ke tembok bata dingin.Tangan besarnya langsung meremas bokong Karin secara kasar dan agresif, mengangkat tubuh wanita itu sedikit lebih tinggi untuk menyamakan posisi mereka."Kamu sendiri yang minta, Karin," geram Maman dengan suara bariton parau penuh gairah di telinga Karin.Karin mendesah basah saat tangan Maman mulai merayap liar di punggung dan pahanya. Bukannya mundur, Karin justru makin memancing batas kesabaran Maman.Wanita itu sengaja menaikkan salah satu kakinya, melingkarkannya di paha tegap
Pagi itu, Heri sedang meneliti beberapa draf berkas di ruang kerja utamanya ketika pintu diketuk pelan.Karin melangkah masuk membawa map laporan keuangan. Penampilan wanita itu langsung mencuri perhatian seluruh ruangan.Karin mengenakan rok pensil warna hitam yang sangat pendek dan ketat, dipadukan dengan atasan blus tipis berdada rendah yang menonjolkan lekuk tubuh serta belahan dadanya dengan sangat jelas.Maman yang sedang berdiri di dekat jendela langsung menghentikan kegiatannya. Pandangan mata Maman terkunci sepenuhnya pada paha mulus Karin yang terekspos tiap kali wanita itu melangkah.Selangkangan Maman seketika terasa tegang parah. Darah jantannya berdesir cepat melihat lekuk tubuh Karin yang sengaja dipamerkan."Pak Heri, ini draf persiapan audit untuk cabang baru," ujar Karin dengan suara manja yang dibuat-buat, sengaja membungkuk sedikit di depan meja Heri hingga belahan dadanya makin mengintip.Heri menerima berkas itu, lalu menoleh melirik Maman yang matanya sudah tak
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya







