로그인Siang itu, ruang privat ber-AC di lantai atas restoran bintang lima pusat kota terasa teramat lengang. Meja bundar besar berpelitur gelap sudah tertata rapi dengan hidangan makan siang berkelas.Heri duduk tegap di kursi utama, mengenakan kemeja hitam yang dipadu jas abu-abu gelap tanpa dasi. Maman berdiri diam di balik punggungnya bagaikan dinding karang yang siap mengeksekusi perintah.Pintu ganda ruang privat terbuka. Kapolres setempat bersama Kepala Dinas Perizinan Utama melangkah masuk, disusul oleh Pak Frans yang menyunggingkan senyum formalitas.Namun, tepat di belakang Pak Frans, sosok Bang Garong ikut menerobos masuk dengan jaket kulit hitamnya, melangkah angkuh tanpa rasa canggung sedikit pun."Selamat siang, Pak Heri," sapa Kepala Dinas sembari menjabat tangan Heri. "Suatu kehormatan bisa diundang makan siang oleh CEO Utama Group.""Selamat siang, Pak Kadis, Pak Kapolres," balas Heri dengan nada suara bariton yang mantap dan tenang. Heri melirik Bang Garong yang langsung me
Heri tidak terpancing emosi sedikit pun untuk merespons gertakan fisik Bang Garong. Pria tegap itu berdiri sangat tenang di samping mobilnya, menyilangkan kedua tangan di atas dada.Dengan aura dominan mutlak seorang pemenang, Heri menatap mata Bang Garong lurus-lurus tanpa berkedip.Tatapan cokelat pekat itu begitu dingin dan menekan, hingga membuat Bang Garong yang tadinya menyeringai perlahan menghentikan ketukan tongkatnya.Beberapa anggota ormas di belakangnya bahkan mendadak segan dan mundur setengah langkah secara refleks.Maman yang berdiri di samping Heri sudah menggepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih, siap menghajar pria bertato itu dalam hitungan detik.Namun, Heri mengangkat tangan kirinya sedikit. Ia memberi isyarat halus agar Maman mundur secara taktis tanpa kekerasan terbuka di hari pertama.Heri sengaja memilih tidak mengumbar otot demi membaca seluruh peta kekuatan lawan dan siapa dalang sebenarnya di balik gertakan ini."Man, masuk mobil," perintah Heri
Pagi itu, koper hitam berisi berkas-berkas penting sudah terikat rapi di bagasi mobil. Heri berdiri di depan cermin kamar tidur utama, merapikan kerah kemeja linen gelap yang dibalut jas kasual.Perjalanan dinas dua hari ke kota tetangga ini sangat krusial; akuisisi lahan dan bangunan tua berarsitektur megah di pusat bisnis kota tersebut menjadi langkah awal ekspansi cabang kedua restorannya.Sintya melangkah mendekat dengan wajah sedikit merogoh cemas. Tangannya membawa dasi Heri, menatap suaminya dengan tatapan memohon."Mas, beneran aku nggak boleh ikut?" tanya Sintya pelan, mendongak menatap wajah tegas Heri."Aku cuma mau dampingi Mas Heri sebentar. Lagipula di sana kan aku bisa sekalian lihat potensi pasar buat butik."Heri meraih jemari Sintya, mengusap punggung tangan istrinya dengan kelembutan penuh proteksi."Nggak boleh, Sayang. Usia kandungan kamu baru empat minggu, masih sangat riskan buat perjalanan darat berjam-jam.""Tapi aku sehat kok, Mas. Mualnya juga sudah berkuran
Heri terpaku kaku di tempatnya berdiri. Kalimat yang baru saja diucapkan oleh dokter keluarga seolah menghentikan aliran waktu di sekitarnya.Dada tegap pria itu berdesir hebat, dipenuhi oleh kombinasi rasa haru, kaget, dan rasa syukur yang teramat luar biasa hingga matanya tanpa sadar sedikit berkaca-kaca."Hamil... Sintya hamil anak saya, Dok?" tanya Heri lagi, memastikan pendengarannya tidak salah.Dokter senior itu tertawa pelan sembari mengangguk mantap. "Benar, Pak Heri. Janinnya masih sangat muda, baru empat minggu. Ibu Sintya cuma mengalami mual awal kehamilan yang wajar. Silakan masuk, beliau sudah menunggu di dalam."Tanpa membuang waktu sedetik pun, Heri melangkah cepat masuk ke dalam ruang pemeriksaan.Di atas tempat tidur medis, Sintya sedang menyandarkan punggungnya dengan wajah yang masih agak pucat namun memancarkan binar kebahagiaan yang sangat menawan.
Mobil SUV hitam milik Heri membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya berhenti presisi di depan halaman gedung sekolah swasta internasional tempat Nathan mengejar ilmu.Heri turun lebih dulu dengan langkah-langkah lebar yang mantap, diikuti oleh Sintya yang melangkah cepat di sampingnya.Wajah Heri kaku tanpa senyum, memancarkan aura dominan mutlak yang membuat beberapa guru di koridor otomatis menepi memberi jalan.Begitu pintu ruang kepala sekolah dibuka dari luar, pemandangan di dalam ruangan seketika menyulut amarah di dada Heri.Nathan duduk di kursi kayu dengan kepala menunduk dalam, sudut pipinya tampak agak memar kemerahan.Di seberangnya, seorang anak laki-laki bertubuh gempal bersikap acuh tak acuh di samping seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang mengenakan setelan jas norak serta jam tangan emas mencolok, orang tua pelaku perundungan."Saya nggak mau tahu ya, P
Suasana ruang rapat lantai dua restoran Heri terasa sangat fokus pagi itu. Lembaran peta kawasan elite pusat kota serta draf proyeksi keuangan untuk cabang kedua terbentang di atas meja kaca.Di ujung meja, Heri duduk tegap memimpin rapat direksi dan tim operasional. Kemeja putihnya yang digulung rapi hingga siku memperlihatkan ketegasan dan wibawanya yang kini kian matang sebagai seorang CEO."Target pasar cabang kedua ini adalah eksekutif muda dan ekspatriat," ujar Heri dengan suara bariton yang mantap dan tenang."Poin utamanya bukan cuma soal estetika tempat, tapi efisiensi dapur dan konsistensi rasa. Saya nggak mau ada penurunan mutu sedikit pun."Heri menunjuk angka-angka di layar proyektor dengan penunjuk laser.Pengetahuannya tentang efisiensi modal, analisis margin keuntungan, hingga detail kenyamanan staf dapur membuat seluruh kepala divisi mengangguk paham.Pria itu bukan lagi pengusaha
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya







