Deru mesin halus SUV hitam milik Heri terdengar mendekat. Mobil gagah itu menepi presisi di belakang kendaraan Maman, tersamar rapi di bawah naungan pohon angsana yang rindang.Tak sampai sepuluh detik kemudian, pintu penumpang belakang SUV Maman terbuka dan Heri melangkah masuk dengan gerakan cepat, senyap, dan penuh perhitungan.Heri mengenakan kemeja taktis warna abu-abu gelap yang membungkus ketat dadanya yang bidang dan berotot. Wajah tegapnya nampak amat dingin dengan rahang yang terkatut kaku."Gimana situasi terakhir, Man?" tanya Heri langsung tanpa basa-basi, suara bariton rendahnya menggema mantap di dalam kabin."Masih sama, Her," jawab Maman sembari menyerahkan teropong jarak jauh miliknya kepada Heri. "Penjagaannya benar-benar tidak wajar. Empat pengawal di halaman depan belum bergeser sedikit pun dari posisinya."Karin yang duduk di kursi depan memutar tubuhnya, menyapa dengan suara pelan. "Siang, Mas Heri."Heri mengangguk singkat ke arah Karin. "Siang, Rin. Makasih sud
Read more