مشاركة

BAB 222

مؤلف: Nona Mentari
last update تاريخ النشر: 2026-08-06 09:31:19

Sinar matahari pagi menyusup dari balik celah kaca depan SUV, menyengat tepat di kelopak mata Maman.

Belum sempat pria bertubuh tegap itu menyesuaikan pandangannya, dering kencang bernada tinggi dari ponselnya di dasbor memecah keheningan kabin.

Maman tersentak kaget. Tubuhnya langsung menegak kaku.

Begitu melirik ke layar ponsel yang bergetar hebat, sepasang mata elangnya membola lebar. Nama "Heri" tertera jelas di sana.

Maman menoleh cepat ke samping.

Karin masih terkulai lemas, tertidur lela
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 225

    Heri memeriksa kembali sarung pistol taktis yang terikat mantap di pinggang belakangnya.Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah Maman dan Karin yang duduk di kursi depan. Suasana di dalam kabin SUV mendadak menjadi amat tegang dan pekat oleh konsentrasi tinggi."Man, dengar instruksi aku baik-baik," kata Heri dengan suara bariton rendahnya yang teramat tegas dan dingin.Maman memutar tubuhnya penuh, menatapHerisecara intens. "Siap, Her. Katakan.""Hubungi Hendra dan tiga orang kepercayaan kita dari tim keamanan restoran sekarang," perintah Heri taktis, jemarinya mengetuk pelan lututnya."Minta mereka datang pakai dua mobil biasa, jangan mencolok. Tugas mereka cuma satu: blokir dua ujung gang keluar komplek ini. Kalau ada mobil yang mencoba menerobos keluar dari rumah ini, langsung hantam atau palang jalanan."Maman mengangguk cepat. "Paham. Aku bakal koordinasikan jalur penyergapan di luar. Hendra dan anak-anak bisa sampai di sini dalam sepuluh menit.""Bagus," sahut Heri. Matan

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 224

    Deru mesin halus SUV hitam milik Heri terdengar mendekat. Mobil gagah itu menepi presisi di belakang kendaraan Maman, tersamar rapi di bawah naungan pohon angsana yang rindang.Tak sampai sepuluh detik kemudian, pintu penumpang belakang SUV Maman terbuka dan Heri melangkah masuk dengan gerakan cepat, senyap, dan penuh perhitungan.Heri mengenakan kemeja taktis warna abu-abu gelap yang membungkus ketat dadanya yang bidang dan berotot. Wajah tegapnya nampak amat dingin dengan rahang yang terkatut kaku."Gimana situasi terakhir, Man?" tanya Heri langsung tanpa basa-basi, suara bariton rendahnya menggema mantap di dalam kabin."Masih sama, Her," jawab Maman sembari menyerahkan teropong jarak jauh miliknya kepada Heri. "Penjagaannya benar-benar tidak wajar. Empat pengawal di halaman depan belum bergeser sedikit pun dari posisinya."Karin yang duduk di kursi depan memutar tubuhnya, menyapa dengan suara pelan. "Siang, Mas Heri."Heri mengangguk singkat ke arah Karin. "Siang, Rin. Makasih sud

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 223

    SUV hitam yang dikendarai Maman meluncur membelah arus lalu lintas kota yang mulai ramai di pagi hari.Mesin kendaraan menderu halus, bergerak stabil menuju kawasan perumahan elit di daerah Kebayoran.Di dalam kabin, atmosfer terasa jauh berbeda dibanding kemarin; ketegangan canggung telah menguap, digantikan oleh keakraban yang tersirat dari sisa-sisa kehangatan semalam.Karin yang duduk di kursi penumpang depan tak lagi menunjukkan sikap ceroboh.Wanita itu memegang ponsel pintarnya dengan serius, sesekali membesarkan layar peta digital untuk memastikan jalur yang mereka tempuh."Mas Maman, dua ratus meter di depan ada pertigaan," ujar Karin dengan nada suara yang tenang dan fokus."Ambil jalur kanan. Alamatnya ada di dalam gang perumahan yang jalannya agak tertutup pohon."Maman melirik ke samping sejenak, menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat di bibirnya. "Bagus. Kamu sudah makin paham cara bacanya.""Harus dong," sahut Karin seraya melirik Maman dengan binar mata j

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 222

    Sinar matahari pagi menyusup dari balik celah kaca depan SUV, menyengat tepat di kelopak mata Maman.Belum sempat pria bertubuh tegap itu menyesuaikan pandangannya, dering kencang bernada tinggi dari ponselnya di dasbor memecah keheningan kabin.Maman tersentak kaget. Tubuhnya langsung menegak kaku.Begitu melirik ke layar ponsel yang bergetar hebat, sepasang mata elangnya membola lebar. Nama "Heri" tertera jelas di sana.Maman menoleh cepat ke samping.Karin masih terkulai lemas, tertidur lelap tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh mulusnya di bawah balutan jaket taktis milik Maman.Di atas paha Maman sendiri, sisa-sisa percintaan liar semalam masih menyisakan rasa hangat dan agak lengket."Sial," umpat Maman pelan dengan jantung yang mendadak berdebar kencang.Ia membetulkan celananya yang masih merosot, merapikan kaosnya secepat kilat, lalu menggeser tombol hijau di layar ponsel sembari berusaha menata nada suaranya agar tidak terdengar mencurigakan."Halo, Her," sapa Maman denga

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 221

    Napas Maman memburu kencang, dadanya yang kekar dan berotot naik-turun tak beraturan saat ia memandang Karin yang kini merosot turun ke area sempit di antara kedua kakinya.Wanita itu menanggalkan seluruh keangkuhannya, menatap Maman dari bawah dengan binar mata liar penuh gairah.Jemari lentik Karin yang agak dingin bergerak sigap menyambar kancing dan korset celana taktis Maman yang basah.Dengan satu sentakan mantap, Karin melucuti celana pria itu hingga meluncur turun ke pergelangan kaki.DEK!Kejantanan Maman membal membebaskan diri, membumbung keras, tegap, dan berukuran sangat besar.Urat-urat menonjol jelas melingkiri batang tebal yang memerah kaku itu.Karin menghentikan gerakannya sejenak, matanya terbelalak terpukau menyaksikan ukuran raksasa milik pria kaku di hadapannya."Gila... punya kamu besar banget, Mas Maman," bisik Karin dengan napas tertahan, menelan ludah kasarnya.Maman menyunggingkan senyum miring yang teramat liar. Tangan besarnya mengusap tengkuk Karin dengan

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 220

    Maman melepaskan cengkeramannya pada lingkar kemudi. Kontrol diri yang dipeliharanya rapat-rapat seketika hancur berkeping-keping.Pria bertubuh tinggi besar itu memajukan tubuhnya yang kokoh, menangkup rahang Karin dengan tangan besarnya, lalu menyambar bibir wanita itu tanpa ampun.SSSHHH!Ciuman Maman mendarat liar dan menuntut. Bibir tebalnya melumat bibir merona Karin dengan penekanan intens, menyedot dan menguasainya secara brutal.Karin melenguh kaget, namun detik berikutnya wanita itu melingkarkan kedua lengan mulusnya di leher kekar Maman. Jemari lentiknya meremas kencang bahu berotot pria itu, membalas lumatannya dengan dorongan lidah yang tak kalah panas."Mphhh... Mas Maman..." desah Karin di sela sela belitan bibir mereka yang kian memburu.Maman tidak memberi celah sedikit pun. Lidahnya menerobos masuk mengaduk bagian dalam mulut Karin, bertukar saliva secara intim diiringi gemuruh hujan badai yang menghantam atap kendaraan.Hawa dingin di dalam kabin seketika menguap, b

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 69

    Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 7

    Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status