“Sayang, tapi … aku juga mau ketemu sama Lily. Aku kangen banget sama anak gemuk,” ucap Nadia dengan suara yang melunak, penuh harap. Bagas terdiam sejenak sebelum tersenyum, tatapannya melembut. “Ya udah, oke. Lily ikut aja, nggak jadi dititipin ke neneknya. Makan yang banyak, Sayang. Salam buat calon bayi kecil di perut kamu. Bilang sama dia, Papanya udah nggak sabar nungguin dia lahir.” Nadia tertawa kecil—sebuah tawa yang sarat akan kebahagiaan dan harapan masa depan. “Ah … iya, aku tuh hampir lupa kalau aku lagi hamil anak kamu. Pantesan aja aku ngerasa aneh, rasanya aku makin nggak mau jauh-jauh dari kamu, ngidam kamu ….” Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, suasana berbanding terbalik. Ibu Nadia berdiri mematung. Dahi beliau berkerut dalam, mencoba mencerna tawa ceria putrinya yang terdengar begitu asing dari dalam kamar. “Dia lagi ngobrol sama siapa?” batinnya bertanya-tanya, merasa ada sesuatu yang janggal namun belum berani ia simpulkan. Tangannya terangkat, siap
Read more