"Gue nggak salah lihat, kan, Braelyn?" suara Eryx nyaris tenggelam oleh deru angin lembah yang membawa aroma ozon yang ganjil. Jari-jarinya mencengkeram ranting pohon pinus hingga patah, matanya tidak berkedip menatap barisan menara pengawas di bawah sana. "Tahun dua ribu dua belas. Ini... ini hari di mana semuanya dimulai."Batin Braelyn menjerit, rasa ngeri yang teramat sangat mencengkeram seluruh rongga dadanya hingga dia sulit bernapas. Bukan cuma tahunnya yang tepat. Ini jamnya. Kurang dari dua jam sebelum Ibu menekan sakelar inti safir hitam dan mengundang Lucien masuk ke dalam hidup kami. Takdir nggak lagi bercanda, takdir lagi menyeret gue buat menghentikan pembunuhan pertama sejarah."Kita harus turun sekarang, Eryx," ucap Braelyn, suaranya mendadak bergetar hebat saat dia memeriksa saku celana kargonya—kosong, tidak ada senjata, tidak ada gawai peretas, hanya ada serpihan kaca dari ponsel 2026 yang hancur. "Di lini masa pertama, jam empat sore
Read more