Valerie mematung ketakutan dengan tubuh gemetar. Isi kepalanya mendadak dipenuhi fakta menyakitkan yang mulai menghantam benaknya. Jika Devan pergi meninggalkannya, ia bukan hanya akan kehilangan pria yang penuh perhatian itu, tapi juga segala kemewahan, dan uang bulanan yang selama ini disuntikkan ke dompetnya. Tidak. Ia tidak boleh kehilangan Devan. Pria itu begitu royal, terpandang, baik hati, dan selalu menjaga kehormatannya dengan begitu baik. Seumur hidupnya, dari sekian banyak pria yang mendekat, hanya Devan yang mampu memperlakukannya bak ratu tanpa pernah menuntut hal macam-macam.Valerie segera merangkak mendekati kursi Devan. Ia bersimpuh, tepat di hadapan Devan. Dengan air mata yang berderai bercucuran, Valerie meraih tangan Devan."Devan... aku mohon, jangan tinggalkan aku," tangis Valerie pecah, bahunya terguncang."Aku minta maaf, Devan. Aku khilaf. Aku bersumpah, akan melakukan apa pun untukmu, apa pun yang kamu minta... asal kamu teta
Baca selengkapnya