Zahwa memaksakan diri untuk tersenyum, meski dadanya sedang berkecamuk. "Mas Devan masih kerja, Mbok. Mungkin lembur, katanya tadi banyak kerjaan di kantor yang harus segera diselesaikan."Mbok Minah mengangguk-angguk paham. "Oh, begitu ya, Non. Memang kalau udah jadi bos itu tanggung jawabnya besar.""Mbok mau minum apa? Biar aku buatkan, ya," kata Zahwa, berniat beranjak dari sofa."Enggak usah repot-repot, Non. Mbok udah minum banyak tadi sebelum ke sini. Non duduk aja di sini, temani Mbok," kata Mbok Minah lembut sambil menepuk pelan sisi sofa kosong di sampingnya.Zahwa pun menurut. Ia duduk mendekat, lalu tanpa sadar merebahkan kepalanya, bersandar di bahu Mbok Minah dengan begitu manja. "Mbok kapan pulangnya? Kok nggak kasih kabar?"Mbok Minah menghela napas panjang, jemari tangannya mengelus rambut Zahwa dengan penuh kasih sayang. "Tadi siang, Non. Waktu baru sampai dan datang ke rumah, Mbok kaget sekali. Ternyata banyak masalah yang terjadi selama Mbok pergi."Firasat Zahwa m
더 보기