Zahwa tercekat sejenak. Ia mendadak teringat kalau Mbok Minah sama sekali tidak mengetahui tentang pertengkarannya dengan Devan.Otaknya berputar cepat mencari alasan yang logis. "Mas Devan... tadi mengabari kalau dia jatuh di kantor, Mbok. Makanya ini aku mau menyusul ke sana.""Ya Allah! Jatuh, Non? Kasihan sekali Mas Devan... Apa jatuhnya parah? Apa perlu Mbok temani ke sana, Non? Biar ada yang bantu-bantu," tawar Mbok Minah."Nggak perlu, Mbok, nggak usah," kilah Zahwa cepat. "Aku ke sana mau naik motor aja biar cepat sampai, jadi nggak bisa kalau bonceng Mbok malam-malam begini. Mbok di rumah aja ya, istirahat. Kamarnya kan udah siap."Mbok Minah nampak kecewa namun ia mengerti situasinya. "Oh, gitu ya, Non... Ya udah kalau gitu, tapi Non harus hati-hati ya bawa motornya. Jangan mengebut, jalanan malam begini rawan.""Iya, Mbok. Aku pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Zahwa seraya menyambar kunci motor di atas meja.Sesampainya di area parkiran kantor, Zahwa langsung mematikan me
Read more