Javendra menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan perlahan. Belum sempat dia bersuara, suara seorang wanita paruh baya langsung terdengar dari seberang sana dengan nada cemas. "Sasa? Nduk, kamu di mana? Kenapa belum pulang?" Javendra berdeham pelan untuk menstabilkan suaranya yang parau. "Halo, selamat malam, Ibu." Keheningan sempat tercipta selama beberapa detik di seberang sana. Suara ibunya Sasa terdengar sangat kaget dan ragu ketika kembali berbicara. "Lho? Ini... maaf, ini benar nomornya Sasa, kan? Saya tidak salah sambung?" "Benar, Ibu. Ini saya, Javendra," jawab Javendra dengan nada selembut mungkin. Mendengar nama itu disebut, ibunya Sasa seketika terdengar panik dan merasa tidak enak. "Astaga, Tuan Javendra? Ma-maafkan saya, Tuan! Saya benar-benar minta maaf. Kenapa ponsel Sasa bisa ada di tangan Tuan? Saya sama sekali tidak bermaksud mengganggu pekerjaan Sasa di sana, Tuan. Saya hanya..." "Ibu, maaf saya potong," sela Javendra dengan cepat, tidak ingin membiar
Mehr lesen