"A-Apa maksud Tuan Javen?" Javendra tersenyum. "Santai saja, Sasa, kenapa tegang sekali?" Sasa meneguk ludah, siapa yang tidak terkejut. Kenapa Javendra berkata seolah hubungan keduanya bisa berjalan normal. Untuk apa, untuk apa Javendra berkata seperti itu, sehingga membuat Sasa jadi menaruh sedikit harapan yang sebenarnya tidak masuk akal. Di tengah keheningan yang mencekam itu, ponsel di saku celana Javendra tiba-tiba berdering nyaring. Javendra merogoh sakunya, melihat nama Bram tertera di layar, lalu menatap Sasa dengan senyuman yang sulit diartikan. Tanpa diduga, Javendra menarik pergelangan tangan Sasa dengan satu sentakan kuat hingga tubuh wanita itu terduduk di atas pangkuannya. Sasa tersentak kaget, dia reflex memegang bahu kokoh Javendra agar tidak terjatuh, sementara pria itu dengan santai menggeser tombol terima di ponselnya. "Ya, Bram. Ada apa?" tanya Javendra, suaranya terdengar sangat tenang seolah tidak ada beban sama sekali. Sasa mencoba bergerak untuk turun, n
اقرأ المزيد