Mobil sedan hitam itu membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Di dalam kabin, atmosfer terasa sangat padat dan tegang. Kejadian tadi membuat Sasa ketakutan, dan dia terus menatap Javendra yang sedang fokus mungkin memikirkan sesuatu. Tuan Javendra sangat tampan, batin Sasa. Siapa yang tidak tergoda dengan pria disampingnya. Kalau dia bukan pembantu, dan dia menjadi Claudia, dia akan memperjuangkan Javendra apa pun caranya. Dibalik sikap arogan pria itu, Sasa sadar bahwa hatinya tersentuh. Meskipun dia selalu saja dibangunkan pada kenyataan, dirinya hanyalah pelayan. Aku tak pantas, batin Sasa lagi. Namun malam ini Sasa seolah sangat terhipnotis dengan pesona Javendra. Perlindungan pria itu, caranya sangat posesif menggenggam tangan Sasa, caranya yang jantan saat memagut bibirnya, membuat seolah ribuan kupu-kupu berkumpul di perutnya dan menggelitik. Pipinya merona, merah sekali dan terasa panas. Sasa menatap bibir Javendra, rasanya ia ingin sekali melumat bibir itu. Apakah d
Read more