"Napasnya diatur ya, Nona Sasa. Tarik napas dalam-dalam dari hidung, lalu embuskan perlahan lewat mulut. Wajar kalau perutnya terasa agak mulas," suara lembut Dokter Indri terdengar dari balik tirai yang tertutup rapat, mencoba menenangkan Sasa yang sejak tadi tubuhnya terus menegang. Sasa menuruti instruksi itu. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, meremas kuat-kuat sisi seprai kasur dengan jari-jari yang memutih. Rasa ngilu dan mulas yang asing mulai menjalar di perut bagian bawahnya, membuat air matanya luruh satu demi satu melewati pelipis. *Ibu... Sasa takut,* bisik Sasa dalam hatinya, memanggil sosok yang menjadi satu-satunya kekuatannya saat ini. Di dalam benaknya, wajah pucat sang ibu yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit langsung terbayang. Sasa teringat lagi pesan singkat dari Bu Siti, tetangganya di kampung, yang ia baca tadi sore. *“Sas, ibumu drop lagi. Dokter bilang jadwal cuci darahnya tidak boleh lowong atau ditunda-tunda ya, kasihan kalau sampai menu
Read more