Sasa melangkah masuk dengan kaki yang terasa berat, menatap nanar lantai kamarnya yang kosong. Tak lama kemudian, Bi Surti muncul di ambang pintu, bersandar pada kusen sambil melipat tangan di dada. Tatapannya terlihat sangat sinis, dengan senyum meremehkan yang terukir jelas di wajahnya, seolah sangat puas melihat penderitaan Sasa. "Eh, udah pulang toh," ujar Bi Surti dengan nada mengejek yang sangat kental. "Maaf ya, itu Nyonya sendiri yang perintah supaya kasur sama selimut kamu diambil sekalian dibuang. Katanya, pembantu murahan yang nggak tahu diri dilarang pakai fasilitas bagus di mansion ini, apalagi sampai tidur nyenyak. Nggak tahu tuh, kamu buat dosa besar apa sampai Nyonya kelihatan jijik sekali sama kamu?" Sasa hanya menatap kosong ke arah Bi Surti, tidak memiliki energi lagi untuk sekadar membela diri dari kata-kata yang menusuk itu. Bi Surti mendengus kasar, lalu menatap Sasa dengan pandangan mengancam. "Aku nggak ada hubungannya ya sama urusan ini. Aku cuma pelayan
Read more