WARNING, BAB INI BERISI PERINGATAN. SKIP JIKA TIDAK BERKENAN, HARAP BIJAK. ** Sasa terpaku di kursinya, mencoba mencerna pertanyaan yang baru saja terlontar. Ke luar negeri? Bagi seseorang yang menghabiskan waktunya dari dapur ke kamar pelayan di mansion mewah ini, pertanyaan itu terdengar seperti sebuah dongeng yang mustahil. Javendra masih menatapnya, menunggu jawaban dengan sabar yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. "Bagaimana, Sasa? Apa kamu pernah berkhayal untuk pergi ke suatu tempat yang jauh dari sini? Ke luar negeri, mungkin?" Sasa meremas jemarinya di atas pangkuan. Ia menelan ludah dengan susah payah. "Saya tidak berani berkhayal sejauh itu, Tuan," jawabnya jujur dengan suara yang sangat rendah. "Bagi saya, bisa bekerja dengan tenang di sini saja sudah lebih dari cukup." Javendra tidak tampak puas dengan jawaban itu. Ia sedikit memajukan tubuhnya, menumpu kedua lengannya di atas meja kerja yang luas. "Lupakan sejenak tentang kenyataan hidupmu. Pikirkan sek
อ่านเพิ่มเติม