"Jawab aku, jujur atau aku akan menghukum mu, Sasmaya." Suara Javendra terdengar rendah dan mengancam, tapi justru nada itu yang membuat tubuh Sasa semakin dingin sekaligus panas. Gadis itu langsung menegang dalam pelukannya. Matanya yang sudah berkaca-kaca semakin bergetar, pipinya memerah hebat karena malu dan ketakutan. "T-Tuan..." bisiknya hampir tak terdengar, suaranya bergetar. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Javendra yang gelap itu. Javendra tidak langsung marah. Ia justru tersenyum kecil, senyum yang sabar namun penuh kuasa. Tangan besarnya yang berada di bawah kaus Sasa bergerak pelan, ujung jarinya menyusuri tulang belakang gadis itu dengan sentuhan ringan yang membuat bulu kuduk Sasa berdiri. "Kamu tidak jawab?" tanyanya lembut, hampir seperti bisikan sayang. "Baiklah." Ia menunduk lagi, bibirnya menyentuh leher Sasa dengan sangat perlahan. Kali ini ia tidak langsung menggigit. Ia hanya mengecup, menjilat pelan, lalu meniupkan napas hangat ke kulit yang suda
Mehr lesen