Di bawah keteduhan pohon kersen di samping direksi keet, Ana menyandarkan punggungnya pada bangku kayu. Dia memejamkan mata, membiarkan deru mesin-mesin berat di area proyek zona B berubah menjadi suara latar yang samar. Di tengah usaha kerasnya untuk mengusir bayangan anting-anting dan aroma mawar yang mengusik ketenangannya, tiba-tiba ponsel di dalam saku rompi kuningnya bergetar nyaring.Ana tersentak, segera merogoh ponselnya. Di layar tertera nama Ibu Dewi. Jantungnya mendadak berdegup lebih kencang. Ketakutan bahwa kondisi Raka tiba-tiba memburuk kembali menyergap batinnya.Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ana menggeser tombol hijau. "Halo, Selamat pagi, Bu? Ada apa dengan Mas Raka? Apa terjadi sesuatu di rumah sakit?" tanya Ana, suaranya naik satu oktav karena panik.Dari seberang telepon, terdengar suara Ibu Dewi, tapi anehnya, nadanya tidak lagi setegang biasanya. Ada keceriaan yang dipaksakan atau mungkin rasa lega yang nyata di sana."Tenang, Ana, tenang. Jangan pa
Baca selengkapnya