Di tengah gema bentakan Raka yang masih menyisakan ketegangan pekat di udara Terminal 3, Gery sama sekali tidak bergeming. Dia tidak membalas provokasi murahan itu dengan amarah ragawi yang lain. Pria itu justru menurunkan pandangannya ke arah jam tangan kronograf di pergelangan tangan kirinya, lalu sedetik kemudian, seulas senyum tipis, senyuman penuh kemenangan yang teramat dingin, terukir di sudut bibirnya."Saya memang orang luar dalam dokumen pernikahanmu, Raka. Tapi saya adalah orang yang memegang kendali penuh atas nasibmu malam ini," ucap Gery, suaranya mengalun sangat lambat, berat, dan dipenuhi kepastian yang mutlak.Sebelum Raka sempat mencerna arti kalimat tersebut, dari arah koridor lobi kedatangan luar yang berbatasan dengan area parkir, sayup-sayup terdengar sebuah suara melengking kecil yang teramat akrab di telinga Ana."Mama... Mama...!"Suara itu mulanya tenggelam di antara deru mesin pendingin ruangan bandara dan lalu lalang manusia, tapi bagi insting seorang
Baca selengkapnya