Setelah kepergian dokter kembali ke dalam ruang perawatan, keheningan kembali menguasai selasar ICCU. Lorong rumah sakit itu terasa begitu sunyi, hanya sesekali dilewati oleh derap langkah pelan perawat yang bertugas malam. Gery masih berdiri mematung di depan pintu kaca, menatap kosong ke arah lantai marmer. Bahunya yang biasa tegak kini tampak sedikit turun, menyiratkan kelelahan fisik dan mental yang teramat sangat setelah dihantam badai emosi yang bertubi-tubi sejak sidang pagi tadi.Ana memperhatikan pria itu dengan seksama. Dia tahu, membiarkan Gery terus berdiri di koridor yang dingin ini, dengan sisa amarah yang masih terasa pekat, bukanlah pilihan yang baik. Ana melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, dia menyentuh lengan kemeja Gery. "Pak Gery..." panggil ana, suaranya mengalun sangat lambat, seperti bisikan hangat di tengah dinginnya ruangan.Gery mengerjap, lalu menoleh perlahan menatap Ana. Sisa-sisa ketegangan masih membekas di matanya. "Ya, Ana?"
Baca selengkapnya