Genggaman jemari Ana pada kemudi mobil peraknya terasa begitu erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Di kursi penumpang, map cokelat tebal pemberian Gery tergeletak bisu, menyimpan deretan lembar kertas yang siap menghancurkan sisa-sisa kedamaian di rumahnya. Air mata Ana sudah mengering sepanjang perjalanan, digantikan oleh tatapan mata yang dingin, kosong, dan dipenuhi oleh tekad yang bulat. Begitu mobil berhenti di pekarangan rumah orang tuanya, Ana tidak ragu lagi. Dia menyambar map cokelat itu, melangkah tegas melewati pintu depan, dan langsung berjalan menuju kamar tidur utama di lantai bawah.Di dalam kamar, Raka sedang berbaring santai sembari menonton televisi, sementara Ibu Dewi duduk di kursi rotan di dekat jendela sambil mengupas buah apel untuk putranya. Brak!Raka tersentak, hampir menjatuhkan remote televisi di tangannya. "Ana? Kamu kenapa masuk seperti orang kesurupan begitu?" Tanya Raka."Aduh, Ana! Bisakah kamu sopan sedikit? Suamimu ini sedang masa pemulihan
Baca selengkapnya