Pertempuran di antara mereka belum usai, tapi malam itu, di bawah temaram lampu kamar belakang, Ana menunjukkan bahwa benteng pertahanannya tidak akan runtuh hanya oleh sekotak cokelat dan air mata buaya.Melihat ketegasan yang membatu di wajah Ana, Raka akhirnya menyadari bahwa topeng penyesalannya malam ini tidak akan bisa meruntuhkan benteng pertahanan istrinya.Raka mengembuskan napas pendek, lalu berdiri dari posisi berlututnya. Gurat kekesalan sempat melintas di wajahnya, tapi dia dengan cepat menekannya kembali saat melihat Nia yang menatapnya dengan mata bulat penuh harap.Raka kembali mengelus puncak kepala Nia dengan gerakan yang lambat. "Ya sudah, kalau Mama masih mau menginap disini, Nia temani Mama dulu, ya. Jangan nakal sama Nenek," ucap Raka, suaranya dibuat selembut mungkin, meski matanya menolak untuk melirik ke arah Ana. "Papa pulang dulu. Cokelatnya dimakan, ya." Lanjut Raka pada putrinya."Papa beneran tidak marah lagi?" tanya Nia lirih, memastikan."Tidak, Sa
Baca selengkapnya