Willem membalas menatap manik mata Dyah dengan sorot biru kelabu yang tetap memancarkan kehangatan dan keteguhan membaja. Dengan jemari kanannya yang gemetar, Willem mengusap air mata di pipi Dyah."Aku sudah berjanji padamu, Dyah,"bisik Willem lembut.Ia mengacuhkan rasa perih menyengat di bahunya. "Selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkan api atau ancaman apa pun merenggutmu, Amin, dan rumah ini."Pak Sum melangkah mendekat seraya membawa obor, wajahnya yang penuh jelaga menyiratkan kepuasan luar biasa."Mas Willem, Den Ayu, Adipati Soerjo sudah binasa di bawah tiang jati utama yang dibakarnya sendiri. Tidak ada lagi tiran yang akan mengganggu tanah ini."Dyah menarik napas panjang seraya meremas jemari Willem dengan erat. Di atas puing-puing panti yang telah menjadi lembah abu, fajar baru perlahan menyingsing di ujung Timur Semarang. Sinar keemasan matahari pagi perlahan merayap menembus sisa-sisa embun pesisir, mengikis kegelapan malam berdarah yang baru saja be
Read more