"Tuan van der Deventer, Nona Dyah," ujar Panitera utama seraya menyodorkan naskah putusan akhir untuk ditandatangani. "Dengan penancapan patok tembaga ini, seluruh hak hukum dan perlindungan militer secara mutlak berada di bawah nama Nona Dyah Ayuwangi Adiningrat."Dyah mengambil pena bulu ayam dan menggoreskan tanda tangannya dengan jemari gemetar namun di atas naskah tersebut. Willem membubuhkan tanda tangannya di samping Dyah sebagai saksi ahli arsitektur dan pendamping hukum."Selesai sudah, Dyah," bisik Willem menatap ukiran nama Dyah yang bertengger di lembaran hukum tertinggi Batavia. Dyah mendongak dan membalas tatapan Willem yang memancarkan kedamaian."Bukan cuma padam, Willem, tapi tanah ini telah kembali pada pemilik aslinya."Pak Sum dan Kang Darmo bersorak memeluk juru ukur, sementara Hendrik tak henti-hentinya menekan tombol tustel mengabadikan momen bersejarah penancapan patok tembaga tersebut. ***Keesokan paginya, derap puluhan langkah kaki yang ragu merayap
Ler mais