Saat serdadu KNIL pimpinan Jenderal van Berg baru mengatur formasi meriam di seberang tanggul, sesosok pria tua bertubuh bungkuk melangkah tergesa menembus celah karung pasir.Kang Marjo menepuk bahu Willem dan Dyah dengan tangan gemetar."Mas Wille, Den Ayu, ikut saya sebentar ke gudang belakang," bisik Kang Marjo."Ada hal besar yang harus kalian ketahui sebelum darah tumpah di jembatan ini!"Willem bertukar pandang dengan Dyah. Mereka menatap kepanikan yang membara di mata tua Kang Marjo, Willem mengangguk rapat. "Darmo! Pegang komando barikade sepuluh menit!""Siap, Mas!" sahut Kang Darmo seraya mengacungkan linggisnya.Willem dan Dyah melangkah cepat menyusuri lorong sempit menuju ruangan paling belakang di gudang transit panti. Di dalam ruangan kayu yang remang-remang itu, Nyai Rahayu tengah duduk membalut luka kuli pelabuhan. Nyai Rahayu mendongak saat Kang Marjo mengunci pintu rapat-rahat dari dalam."Ada apa, Kang Marjo?" tanya Nyai Rahayu, mengerutkan dahi.Kang Ma
Read more