Di balik rerimbunan rumpun bambu petung yang rapat di saluran belakang, tiga unit sampan kayu raksasa sudah bersiaga di atas air rawa yang tenang. Pak Sum bersama empat pemuda serikat buruh berdiri memegang dayung kayu tebal dan menyamar di balik rimbunnya eceng gondok."Ayo, cepat naik satu per satu!" komando Yu Sum lirih namun sigap.Nyai Rahayu memangku dua anak terkecil di sampan terdepan, sementara Yu Sum mengawasi anak-anak lainnya naik secara teratur. Dalam hitungan menit, sepuluh anak panti telah duduk rapi di dalam lambung sampan, tertutup oleh hamparan anyaman bambu tipis dan dedaunan pisang agar tidak terlihat dari udara atau teropong militer."Dayung perlahan, Pak Sum!" bisik Yu Sum. "Gunakan celah ilalang barat!"Dayung kayu membelah air rawa tanpa menimbulkan kecipak keras. Tiga sampan rahasia itu bergerak cepat bagai bayangan senyap, meluncur menyusuri celah saluran dalam yang terlindung oleh tajuk-tajuk pohon bakau dan rawa.Dari balik jendela kayu panti yang terb
Read more