"Willem," bisik Dyah bergetar. "Di tempat inilah, Dyah." Willem mengulurkan tangannya dan menyentuh lembut jemari Dyah yang dingin. "Di antara lumpur rawa ini, bersamamu dan anak-anak panti, aku baru menemukan arti rumah yang sesungguhnya. Kamu yang mengajariku bahwa arsitektur sejatinya bukan tentang kemegahan batu bata, melainkan tentang jiwa yang tinggal di dalamnya." Dyah menggigit bibir bawahnya dan menahan rasa haru yang meluap hingga dadanya berdesir hebat. Ia tidak menarik tangannya. Jemari mereka menyatu dan saling mengunci hangat di bawah naungan dahan kamboja. "Dulu aku selalu merasa takut, Willem," aku Dyah lirih. Ia menatap lurus ke dalam manik mata biru kelabu milik Willem. "Statusku sebagai wanita pribumi dan ketakutan akan kehilangan warisan ibu, semua itu bagai rantai yang mengikat kakiku, tapi malam ini, melihatmu berdiri di lumpur bersama warga ...." Dyah menggariskan senyuman paling tulus yang pernah Willem lihat. "Rantai itu sudah putus, Willem. Se
Read more