Raka tidak langsung kembali ke kantor. Setelah pintu mobil tertutup, napasnya masih terasa berat, sisa-sisa amarah belum sepenuhnya reda."Ke salon Kak Raya. Sekarang," perintah Raka tajam.Rehan, yang tengah bersiap mengarahkan mobil kembali ke kantor, sedikit ragu. "Tapi, Pak, Anda memiliki jadwal meeting penting dengan dewan direksi siang ini. Kita tidak bisa menunda ini."Raka menatap Rehan dari kaca spion, sorot matanya dingin, sedingin es yang baru saja menampar wajah Rehan. "Batalkan," ucapnya pendek, mutlak, dan tidak menerima bantahan.Rehan tidak berani bertanya lagi. Ia segera memutar kemudi menuju salon milik Raya. Begitu mobil berhenti di depan salon, Raka turun dengan langkah yang penuh tekanan, masuk ke dalam ruangan yang harum dengan aroma sampo dan perawatan rambut.Di balik meja kasir, Alya membeku. Matanya membelalak, dadanya mendadak sesak. "Apa yang dilakukan Raka di sini? Kenapa dia datang ke sini?" batinnya kalut, menatap Raka dengan intensitas yang tak bisa ia
Read more