Malam itu, Arlos datang lagi. Anastasia sudah mengantisipasi kedatangannya—ia bisa merasakan perubahan di udara, cara para pelayan tiba-tiba bergegas keluar kamar, cara lilin-lilin dinyalakan lebih banyak. Tapi kali ini, ketika pintu terbuka dan Arlos masuk, ia tidak langsung mendekat seperti biasa. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Anastasia yang duduk di tepi ranjang dengan ekspresi yang aneh. “Kau tidak gemetar,” Arlos berkomentar. Anastasia menyadarinya juga. Biasanya, tubuhnya akan gemetar refleks saat Arlos datang—respons ketakutan yang tidak bisa ia kontrol. Tapi malam ini... entah kenapa ia merasa lebih tenang. Mungkin karena ia sudah terlalu lelah untuk takut. Atau mungkin karena ia sudah mulai menerima situasinya. “Aku lelah untuk takut,” jawab Anastasia jujur. Arlos berjalan mendekat dengan langkah yang lambat dan terukur, mata merahnya tidak lepas dari Anastasia.
Read more