Malam kedua datang terlalu cepat. Arlos datang lagi, dengan tatapan yang sama dinginnya, dengan niat yang sama brutalnya. Dan Anastasia—dengan tubuh yang masih sakit dari malam sebelumnya—tidak punya pilihan selain menerimanya. Tapi kali ini, di tengah rasa sakit dan air mata, dia memaksa dirinya untuk tetap sadar. Memaksa dirinya untuk mengamati, untuk mencari petunjuk apapun yang bisa membantunya memahami apa yang terjadi. “Arlos,” ucapnya di tengah napasnya yang terengah-engah, di tengah rasa sakit yang membuatnya ingin berteriak. “Apa—apa yang kau ingat? Tentang dua hari yang lalu?” Arlos tidak menjawab, terus bergerak dengan brutal. “Kumohon—jawab aku—“ Anastasia mencoba lagi, tangannya mencengkeram lengan Arlos. “Apa yang terjadi padamu? Siapa yang ada di ruanganmu?” “Diam,” Arlos memerintahkan dengan dingin. “Aku tidak membawamu
Read more