Akhirnya para prajurit bersama Zhuang Ling ikut dalam rombongan menuju lokasi Zhang Xin yang terluka. Tabib dari istana juga sudah berada dalam perjalanan, dipacu secepat mungkin agar segera tiba. Di atas tandu darurat, kondisi Zhang Xin semakin mengkhawatirkan. Wajahnya pucat, napasnya tidak stabil. Darah dari luka panah di bahunya masih merembes, membuat pakaian di sekitarnya basah. Dada Zhang Xin terasa sesak, seolah setiap tarikan napas adalah perjuangan. Dengan suara lemah yang hampir tak terdengar, ia terus memanggil nama yang sama. “Zhuang… Ling…” “Zhuang Ling…” Suaranya makin lama makin melemah, terselip di antara napas yang tersengal. Para prajurit di sekelilingnya mulai semakin cemas, mencoba menjaga agar Kaisar tetap sadar selama perjalanan. “Yang Mulia, bertahanlah!” “Tabib segera datang, mohon tahan sedikit lagi!” Namun Zhang Xin hanya sedikit membuka mata. Pandangannya kabur, tubuhnya mulai terasa berat… Seolah kesadarannya perlahan menjauh
Magbasa pa